Desain Grafis Indonesia

Desain Grafis Indonesia

Fostering understanding among Indonesian graphic designers and its juncture in art, design, culture and society

Blue Print "Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025"

PEI2025-1

PEI2025-2

PEI2025-3

PEI2025-4

PEI2025-5

PEI2025-6

Download di sini > Buku 1 – RENCANA PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF INDONESIA 2009, Buku 2 – RENCANA PENGEMBANGAN 14 SUBSEKTOR INDUSTRI KREATIF

Sumber: Departemen Perdagangan Republik Indonesia

•••

« Previous Article Next Article »

COMMENTS

  1. owh sheet.. this iz boollsheet…speechlesss…..

  2. I agree with U, karna. It just on paper.

  3. Nggak usah sinis, kalau nggak setuju diam saja. Apa sih yang sudah Anda lakukan buat negeri ini?

  4. memang sehh useless akan terus berlaku buat visi dan misi apapun selama dari kuli batu sampai presiden punya hobi nikus..
    btw, oke aja lahh..

  5. kecewa terhadap yang lalu boleh, tapi menutup mata untuk hal positif yang akan dilakukan saya rasa kurang bijak.
    untuk rencana pengembangan ekonomi kreatif indonesia 2009-2015, mari kita dukung bersama dengan kemampuan yang kita miliki.
    insyaalloh, niat yang baik, dilaksanakan dengan baik pula dan untuk kemasalahatan orang banyak akan juga menuai berkah positif. dan pesan singkat buat para pejabat-nya
    stop obral janji.
    saya pengen merasakan bangsa ini bermartabat sebelum akhir hayat, amin!!!

  6. Setiap niat baik, harus dibarengi juga dengan langkah yang baik.
    Mari kita dukung walau dalam hati dan doa, meski kita tidak mampu berbuat, semoga yang hebat-hebat disana..bisa berbuat lebih hebat lagi…
    Do more…talk less, buktikan, jangan cuma janji..!
    We’ll see…

  7. sip. nderek bingah

  8. Kalo ngga ada itu apa iya malah lebih baik?

  9. Fwooh… berat…. sumbangan untuk NEGERI !!! bikin ngeriie, gak tuh! Mendiang kakek paman yang pernah di mortir karena nekat merebut panser Belanda bercerita bahwa orang-orang yang berjoang dan berani mati kebanyakannya sudah lebih dulu berpulang. Sisanya kebanyakan pejoang-pejoang yang kurang nyali dan bertahan hidup sampai kemudian kalo bernasib baik mendapatkan medali penghargaan sebagai ‘pahlawan’. Masih banyak hal-hal kecil yang perlu dibenahi disekeliling kita, sebelum bicara soal membenahi ‘negeri tercinta ini’, konon-kononnya. =P

  10. sepp, mas bole minta ijin di publish di blog saya gak ?

  11. setuju mas hasjtarjo, apa sih yang sudah kita perbuat untuk negeri ini…?????

  12. ya kalo aku sehh simpel..
    yg sudah aku lakuin bwat negeri ini cuma tidak bersentuhan sama apa saja yang gak berkualitas (mulai dari bisnis hingga artis), gak usah munafik emang gak bagus kan..
    jujur aja bilang dari dalam hati jelek ya jelek, gak usah dibelain!!
    kenapa? mau tau alasannya?
    Indonesia gak bakal maju dari segi apapun kalo kita terus dukung dan belain semua2 pola pikir yg gak berkualitas dan gak berkarakter tumbuh di Indonesia.
    gampangnya kalo gak ada yang beli bajakan gak mungkin ada yang produksi bajakan.. ni contoh paling simpel..
    visi dan misi boleh, tapi masih banyak ranjau di ladang
    jangan langsung diterjang dan main gak peduli sama yang lalu..
    bukannya kalo mau bangun ‘rumah yg baik’ harus bikin pondasi yg baik dulu!

    (just my opinion)

  13. dulu, sy juga sering sinis denger yang begituan. Bungkus thok, isinya angin! ha.ha.ha…

    Belakangan baru sadar kalo ternyata saya juga punya tanggung jawab buat andil mengisi dan mewujudkannya…

    We’ll see…
    eh salah, we’ll do something. Start from little thing.

  14. ekonomi memang sektor ‘pamungkas’ dalam sebuah negara..
    tapi ‘bambang’ nya adalah pelaku ekonomi! (yg notabene cuma perut.. kenyang gitu >< bukan Indonesia.. makmur gitu)
    hehh..

  15. Saya mendukung Ibu Mari Pangestu! Sebuah niatan dan perencanaan menjadikan sektor kreatif berkembang sudah merupakan langkah awal yang bagus, dan layak didukung, bukan ditanggapi secara skeptis gitu. Give it a chance!
    Lagian emang udah ada bukti2 kemajuannya kok sejak mulai pengangkatan beliau jadi mentri.
    Belum fantastis memang, tapi I appreciate every small effort.

  16. Ayo temans… mari kita fokus ke hal-hal yang positif dan membangun.

  17. desainnya?
    desain kan..?
    kok…??

  18. saya setuju dengan chacha. Malah harusnya kita sbg komunitas kreatif/desain merasa lega, bahwa pemerintah akhirnya paham akan potensi/kekuatan desain. Masalah visi misi/planning/roadmap atau apalah itu, ayo kita kritisi dengan serius – jangan cuma sekedar caci maki. Kalo ada yang kurang ayo kita kasih kritik dan masukan. Dengan adanya road map ini memang tidak serta merta menjamin semua akan beres, pasti banyak hal (dari yang konseptual sampe teknis) yang akan jadi kendala – yang gak mungkin diatasi hanya dengan caci maki aja..

  19. ramenya! baguslah, demokrasi tokh, tapi, wah tertinggal lagi kita…

  20. justru pemerintah selain telat utk paham/menyadari (bukan karena tidak sadar tp memang cuek) potensi budaya kreatif Indonesia, juga memang tidak punya ‘blue print’ strategi kebudayaan sejak awal-awal lagi. Idealnya strategi memerintah itu harus melibatkan dari semua golongan dan intelektual pakar segala bidang. Dipilh pakar2 terbaik di masing2 bidang. Bukan sekedar opportunis dan komparador.
    Program2 ini dan itu yg dibuat bukan berawal dari satu strategi utama dan dijabarkan, tapi strategi ‘tambal-sulam’. Begitu ganti pucuk pimpinan, semua strategi berubah, ganti lagi berubah lagi. begitu seterusnya…

  21. Pak Hast, selamat untuk upaya nya. tanggapan Pro dan Kontra untuk sesuatu yang kita yakini itu wajar saja terjadi. Satu pertanyaan untuk tim penyusun, dalam wacana global, melihat pada pondasi perdagangan dan industri kita saat ini, apakah Indonesia punya peluang untuk ada dikategori negara kreatif?

  22. Bung Mario betul 100% pro kontra itu wajar bahkan dalam proses penyusunan dimulai dari studi industri kreatif, pembuatan cetak biru sampai dengan pembuatan rencana program implementasinya secara internal dan eksternal selalu dipenuhi dinamika perdebatan pro dan kontra yang tujuannya untuk kebaikan semua. Cetak biru ini hanyalah landasan yang harus terus menerus disempurnakan dengan berbagai masukan yang membangun bukan sekedar rasa apriori dengan dibungkus caci-maki yang kontraproduktif. Dalam penyusunan cetak biru ini pun sudah diawali dengan suatu kajian dan diskusi (FGD) yang panjang dengan para pihak terkait pemerintah, kaum intelektual dan akademisi yang kompeten di bidangnya secara bersama maupun per sektor.

    Mengenai pertanyaan Anda, jelas cetak biru ini disusun memang karena Indonesia merupakan negara kreatif jika kita belajar dari sejarah kejayaan di masa lampau. Tinggal bagaimana mengolah kreativitas bangsa menjadi bernilai tambah. Ekonomi kreatif yang dikembangkan harus berbasis budaya dan warisan budaya Indonesia yang dikemas dalam konteks kontemporer agar bercita rasa dunia.

  23. Jika kesulitan mendownload dari DGI, Cetak Biru ini dapat didownload dari http://www.depdag.go.id pada link khusus BLUE PRINT………

  24. Dalam perspektif membangun “Indonesia Baru” energi hanya akan terbuang sia-sia bila digunakan hanya untuk mencaci, menghujat atau menjatuhkan. Sebaiknya kita bersatu, memadukan energi masing-masing, menjadi kekuatan yang positif untuk bangkit menjadi bangsa maju.

  25. Setuju Pak Hanny. Bersama kita bisa.

  26. Ada yang menuliskan demikian: “It just on paper.” Pertanyaan saya, kalau cara memandangnya sebatas it just on paper ya selamanya akan it just on paper. mana yang perlu dikembangkan, papernya atau cara anda melihatnya? Jadi, “it just on paper” dalam batasan tertentu sepadan dengan “owh sheet.. this iz boollsheet…speechlesss…..”

    Dengan demikian “owh sheet.. this iz boollsheet…speechlesss…..” saya artikan “it just on paper juga”. tak lebih dari ini: “it just on screen”.

    jadi sayang juga, Anda buang-buang energi bung. alamak

  27. saya ingin berbagi pengalaman. di ISI jogja, mulai saat ini, mahasiswa memeroleh dana wirausaha. pemikiran ini didasari bahwa perguruan tinggi banyak menyumbang lulusan yaitu pengangguran. data atau statistik tersebut faktual, yaitu bahwa penggangguran salah satunya disumbang dari perguruan tinggi. it just on paper kalau boleh meminjam istilah orang lain, adalah sebuah data, statistik penggangguran.

    saya kira, keputusan memberi kesempatan wirausaha bagi mahasiswa adalah memang penting bahwa sesuatu mesti it just on paper, yaitu dalam artian paper di sini adalah pembakuan realitas. meski terlambat, melalui it just on paper tadi, dikti memutuskan untuk mengatasi pengangguran dari salah satu sumbernya, yaitu berupa energi positif, yang tidak lain kesempatan berwirausaha bagi mahasiswa. memang, dengan adanya mata kuliah kewirausahaan diharapkan setelah lulus mahasiswa mampu membuka usaha secara mandiri.

    namun, persoalannya persis di situ, it just on the class. saya kira, bantuan dana wirausaha dalam status masih mahasiswa adalah salah satu cara mengatasi cara melihat yang diistilahkan orang sebagai it just on paper. jadi, it just on paper itu sebuah pengobjektivasian. dan, tak ada yang salah dengan itu, karena dia objektiv. persoalaannya data objectif mengandung kualitas tertentu setelah disubjekkan, dalam ksesmpatan ini kesempatan berwirausaha. jika hasilnya tetap menyumbang pengangguran, yang diperbaiki bukan it just on papernya, namun program wirausahanya. usaha memperbaiki tadi ya berawal dari it just on paper yang baru, alias data/statistik yang baru.

    kira-kira demikian cara melihat saya.

    salam dari jogja

  28. akan selalu ada harapan lebih baik kalo kita mau percaya dan mau berpikir posistif, kalo teman2 lihat sejarah kota New York dulu yang merupakan kota bronx dan kini telah berubah menjadi kota pusat bisnis di dunia adalah bermula dari ada satu orang yang masih berpikir posistif dan percaya bahwa selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik, gak usah menunggu siapa2 mulailah dari diri kita sendiri sekarang!

  29. hmm… negatif?
    sadarkah kita kalau orientasi disiplin ilmu desain grafis atau komunikasi visual ini bermotifkan orientasi kerja-produksi-konsumsi?
    Kita di Indonesia ini ‘lupa’ kalau telah ‘kehilangan’ basis cetak biru pemikiran untuk ‘bangsa Indonesia’. kalau sekedar ‘hilang’ kita bisa mencarinya, tetapi apakah dapat ditukar-tukar begitu saja, sedangkan sekarang ini yg terjadi adalah kita bahkan ‘lupa’ bahwa kita ‘kehilangan’ sebuah cetak biru pemikiran kebangsaan.
    Memang gampangnya ngomong, buat apa mikir gini gitu, itu urusan intelektual, budayaan, antropolog, sosiolog, dsbnya, bukan urusan kita. Peran ekonomi direduksi secara sempit kepada bisnis, niaga, perputaran duit dan lapangan kerja. Kalau bicara cetak biru dalam sub-sub yg lebih kecil spt ekonomi kreatif ini, cetak biru dalam konsep apa itu Indonesia harus dipersiapkan dgn jelas lebih dulu.
    Lagi2 dgn gampang kita tinggal lempar saja masalah itu kepada, itu urusan politikus, negarawan, budayawan, pemerintah dkk. Sebagai rakyat dan masyarakat kita tinggal timbang terima dan yang penting dapur ngebul.
    Lontaran tulisan STA ttg visi masa depan bangsa Indonesia, sama sekali tidak ada yg mendebat, atau menyumbang pikiran.
    Tanpa cetak biru yg jelas, terarah, apa, siapa, mau kemana dan bagaimana itu Indonesia mustahil menggerakkan yg lain-lain. Diskusi identitas dan pendidikan DKV ‘INDONESIA’ hanya akan berbuntut kebuntuan belaka.
    Apa yang mendasari pemikiran ‘Indonesia’ dalam karya2 desain kita?
    Kalau ingin memulainya, mulailah untuk belajar ‘berpikir’!!!

  30. ada hal-hal yang patut dipelajari dari kasus di atas. saya katakan kasus karena ekonomi kreatif menjadi suatu desain masa depan yang masih menyimpan beberapa persoalan. ada yang setuju, ada yang tidak. saya kira, pikiran yang tidak menyetujuinya bukan selalu kita tolak. saya yakin, ada hal positif di balik penolakan tersebut.

    saya, meski mendukung gagasan ekonomi kreatif, mendukung pula agar dkv tidak tereduksi ke dalam teknokrasi. juga sepakat dengan dkv jangan senantiasa berada dalam relasi kerja-produksi-konsumsi.

    namun, sebagai mahluk menyehari, menyejarah, relasi kerja-produksi-konsumsi merupakan hal normal. kita bekerja, kita berproduksi, dan kita mengonsumsi, serta konsumsi tersebut menghasilkan buangan (limbah). saya kira, yang teman-teman yang memberatkan ekonomi kreatif bukan pada relasi kerja-produksi-konsumsi, namun dkv jangan tereduksi sebatas itu. artinya, jika relasui tersebut sebatas direduksi pada cara melihat teknokrasi, ya sayang juga (one dimentional man).

    mari tetap menjadikan ruang ini terbuka, saling menerima kritik, dan tetap kepala dingin, hati dingin. yen wong jogja saiki arep ngomong, alon ning klakon, tinimbang cepet-cepet ning waton klalon.

    salam hangat dari jogja

  31. Setuju banget dengan Bung Koskow. Begitulah sebaiknya kita bersikap dan berpikir positif. Semoga semakin maju DKV Indonesia. Salut.

  32. oke deh, kalo gitu, untuk terwujudnya cetak biru ini marilah para desainer grafis berbondong2 memilih nomer 2!

  33. ngomong2 isinya apa sih, jangan2 di sini ribut2 tp ga tahu isinya.

  34. ada yang nulis begini: “ngomong2 isinya apa sih, jangan2 di sini ribut2 tp ga tahu isinya.”

    nah, ini jenis teman yang oke, mengingatkan agar jangan cuma kerjanya omong doang dan malah memerluas perbincangan tapi gak ada kerja nyata. sip guys.

    saya hanya ingin menambahkan, meski di kampus ada program wirausaha untuk mahasiswa, namun belum jelas aturannya, misalkan kalau gagal apa dana kembali utuh atau bagaimana. mesti ada ketegasan.

    menyambung keprihatinan mas k4rna, kiranya hal penting dari beliau, yang saya coba ambil untuk kasus wirausaha mahasiswa, adalah meski ada program wirausaha namun jangan sampai menjadikan kampus menjadi kampus enterpreunership. karena kalau kampus mengurus enterpreunership, bagaimana menjalankan pilar pengabdian untuk masyarakat.

    saya sendiri masih gagap menyelami ekonomi kreatif, apalagi jika ekonomi kreatif dijalankan melalui local contant. saya sedang menyelami kembali local contant, barangkali, jalan ini bisa merangkul ekonomi kreatif yang meng-indonesia. apa yang sudah saya kerjakan: belum jauh, baru sebatas mengamati sambil berusaha menuliskannya. aduh, saya masih belum banyak melangkah. ada baiknya kita memelajari langkah yang telah dirintis bondan, yaitu kuliner. saya membayangkan ada kuliner dkv di indonesia. (dkv isi jogja baru melakukan kajian terhadap kemasan wingko babat/natalia afnita, iklan enamel/karina rima melati, dan kemasan teh/johanes gimbal, serta pameran Rumah Seribu Kota/dkv isi jogja)

    tetap semangat dan bekerja. salam dari jogja

  35. berbesar hatilah, harusnya segala yang baik harus direspon baik !
    lebih baik terlambat daripada tidak samasekali !

    horass……!

  36. ada yang menulis: “berbesar hatilah”…mengingatkan saya tentang [program wirausaha bagi mahasiswa. saya setuju namun dengan tetap memberi kesempatan seluasnya bagi semua mahasiswa. pertanyaan saya, jika kampus semakin mahal, bagi mereka yang tidak mampu, semakin tersingkir dari arena kewirausahaan. semoga ISI tetap terjangkau semua pihak, terutama bagi yang kurang mampu secara finansial. jika tidak, saya kira hanya yang kaya yang mampu bertahan hidup melalui pengetahuan. semoga sekolah gratis terealisasi dan semua dapat mengakses program wirausaha mahasiswa. salam dari jogja

    – koskow -

  37. […] Mengenai Perkembangan Ekonomi Kreatif Indonesia: Sektor Ekonomi Kreatif Indonesia Belum Kondusif Blue Print “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025″ […]

  38. […] Mengenai Perkembangan Ekonomi Kreatif Indonesia: Sektor Ekonomi Kreatif Indonesia Belum Kondusif Blue Print “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025″ […]

Add Your Comments

© DGI-Indonesia.com | Powered by Wordpress | DGI Logo, DGI's Elements & IGDA Logo by Henricus Kusbiantoro | Web's Framing by Danu Widhyatmoko | Developed by Bloggingly