Click on the image to zoom in
Buku-buku ini dirancang Cecil Mariani sebagai inisiatif penggalangan dana melalui @tuatuasekolah di jaringan sosial internet. Cecil, bersama teman-temannya Felencia Hutabarat dan Lisabona Rahman, pada usia lewat dari tiga puluh tahun, ingin melanjutkan pendidikan di bidang seni-budaya yang mereka cintai dan ingin kembangkan. Mereka ingin berbagi mimpi tentang dunia seni-budaya yang lebih baik di Indonesia dan kekuatan untuk mewujudkan mimpi, tak peduli mulai dari umur berapapun.
The notebooks were designed by Cecil Mariani as part of a fundraising initiative through @tuatuasekolah among online social network. Cecil together with her friends Felencia Hutabarat and Lisabona Rahman, all in their thirties, decided they want to pursue higher education in arts and culture, a field they love and engage to improve. They wish to share the dream of better arts and culture field in Indonesia and the energy of making dreams come true, no matter at which age they start it.
Catatan:
”This notebook is sending someone to graduate school”, demikian quote yang tercantum pada punggung buku. Berdasarkan hitungan terbaru, untuk memenuhi kebutuhan uang sekolah Cecil, Ellen dan Lisa, dan demi dana beasiswa berkesinambungan di masa depan, diperlukan penjualan sekitar 70 buku/hari hingga dua tahun ke depan. Dengan membeli buku catatan jurnal @tuatuasekolah sebagai koleksi pribadi, anda sekaligus telah membantu mereka yang tengah membutuhkan. Anda juga bisa membelinya lagi sebagai hadiah, souvenir atau parsel hari raya.
HOT ISSUE: TUATUASEKOLAH di The Jakarta Globe!
Ukuran dan harga:
A6: 10.5 x 15 cm, 160 pages, harga Rp. 30.000,-
A5: 21.5 x 15 cm, 128 pages, harga Rp. 50.000,-
A4: 21.5 x 30 cm, 160 pages, harga Rp. 90.000,-
Warna:
- Black
- Orange
- Lime green
- Red
- Fuchsia
- Lavender (Light Purple)
- Violet (Dark Purple)
- Mocha
- Dark Blue
Seri quote sticker yang tersedia sekarang:
”This notebook is sending someone to graduate school”
”Never study anything by thinking that you would serve the society & industry, study everything to revolutionize them”
”Only one man in a thousand is a leader of men, the other 999 follow women” – Groucho Marx
”Writing is a socially acceptable form of schizophrenia” – E. L. Doctorow
”Consciousness is a singular of which the plural is unknown” – Erwin Schroedinger
”We buy things we don’t need, with money we don’t have, to impress people we don’t really like” – Dave Ramsey
”Books are a hard-bound drug with no danger of an overdose. I am the happy victim of books” – Karl Lagerfeld
”The meaning of things lies not in the things themselves, but in our attitude towards them” – Antoine de Saint-Exupery
INFORMASI PEMESANAN
Cara Memesan
Sebutkan nama/kode produk-produk dan jumlah yang dipesan.
Cakupan dan Biaya Pengiriman
Cara Pembayaran
a. Transfer via internet banking:
BCA Cabang Pondok Indah. No. 2371360907 a/n Hanny Kardinata. Login ke www.klikbca.com atau
Bank Mandiri Cabang Bintaro. No. 1640000247785 a/n Hanny Kardinata. Login ke www.bankmandiri.co.id
b. Transfer via ATM ke:
BCA Cabang Pondok Indah. No. 2371360907 a/n Hanny Kardinata atau
Bank Mandiri Cabang Bintaro. No. 1640000247785 a/n Hanny Kardinata
c. Konfirmasi pembayaran* ke DGI Bookstore <store@dgi-indonesia.com>:
Sutjipto Tantra
+6285890232310
+6281806027099
d. Pengiriman diproses paling lambat satu hari setelah transfer pembayaran diterima.
* Cantumkan nama, alamat, email dan nomer telepon selular anda saat konfirmasi melalui SMS.
Catatan:
Ekspedisi di dalam DKI Jakarta antara 1-4 hari kerja, di luar DKI Jakarta sesuai ketentuan JNE.
DGI Bookstore berusaha agar pemesanan anda dapat segera diproses dan produk dapat dikirimkan secepat mungkin. Sebagian produk yang kami jual tersedia di stok gudang kami, tetapi ada juga yang harus kami ambil langsung ke gudang penerbit atau kembali ke penerbit atau desainernya. Hal ini dapat menyebabkan lamanya pengiriman
bertambah. Karena itu diharap bantuannya agar segera melakukan proses pembayaran dan konfirmasi setelah anda melakukan order.
Belanja baru diproses setelah ada konfirmasi pembayaran.
Lama pengiriman dihitung sejak pembayaran anda lunas.
Lama pengiriman yang tercantum adalah perkiraan kami dengan catatan semua produk yang anda pesan dapat kami sediakan dari gudang kami. Dalam beberapa hal kadangkala bisa terjadi ketika anda melakukan order, buku atau merchandise yang anda pesan ada, tetapi karena banyak pembeli lain yang membeli produk yang sama dan langsung membayar lunas sehingga stok gudang DGI Bookstore habis maka kami harus memesan kembali ke penerbit atau desainernya. Hal ini dapat menyebabkan lamanya pengiriman bertambah. Karena itu diharap bantuannya agar segera melakukan proses pembayaran dan konfirmasi setelah anda melakukan order.
Tips-tips berbelanja yang memudahkan pemesanan anda sampai sesuai dengan janji kami:
- Setelah anda melakukan pemesanan silahkan lakukan konfirmasi pembayaran pada hari kerja yang sama atau sebelum jam 16.00 wib, jika pemesanan dan konfirmasi pembayaran lewat dari jam 16.00 wib, proses pemesanan akan kami lakukan keesokan harinya.
- Berikan nama dan alamat yang jelas, email serta no. telepon yang bisa di hubungi jika diperlukan saat pengiriman, lebih baik jika diberikan ciri-ciri lokasi tujuan pengiriman pesanan anda. Hal ini lebih memudahkan baik kurir kami maupun kurir ekspedisi yang bekerjasama dengan kami.
- Jika ada pesanan yang belum tiba sampai dengan batas waktu yang ditentukan, harap langsung mengkonfirmasikan kode belanja anda. Karena jika sudah lewat terlalu lama kami agak kesulitan untuk melakukan pelacakan pesanan anda.
- Dimohon untuk mengaktifkan telepon selular anda selama proses pemesanan berlangsung, karena baik kurir maupun pihak ekspedisi kami selalu mengkonfirmasi pengiriman anda jika mengalami kesulitan dalam pencarian alamat anda.Jika pemesan/penerima belum menerima pesanannya padahal lama pengiriman sudah lewat waktu, silahkan tanyakan kepada bagian pengiriman melalui email DGI Bookstore <store@dgi-indonesia.com>
![]()
Profil TUATUASEKOLAH
TUATUASEKOLAH adalah proyek penggalangan dana beasiswa yang dirancang oleh Cecil Mariani, Felencia Hutabarat dan Lisabona Rahman. Cecil, Ellen dan Lisa mulai merintis karir di bidang seni-budaya pada 10 tahun yang lalu, saat masyarakat Indonesia sedang merumuskan kembali kehidupan kebudayaannya. Kesempatan mencipta karya seni semakin terbuka, kelompok-kelompok kesenian bisa tumbuh dengan lebih bebas dan otonomi daerah menyadarkan kita akan kekayaan potensi budaya yang dapat diolah sebagai kekuatan ekonomi dan sosial.
Keterbukaan dan semangat pertumbuhan ini jugalah yang memungkinkan mereka bertiga menemukan bidang-bidang profesi yang sangat penting untuk pengembangan seni budaya di Indonesia. Posisi-posisi ini harus segera diisi. Mereka percaya bahwa bidang seni dan budaya Indonesia bisa berkembang lebih baik lagi jika para pekerjanya didukung untuk terus meningkatkan keahlian profesional mereka. Cecil, Ellen dan Lisa akan melanjutkan sekolah ke jenjang S-2. Mereka bertiga sudah diterima di 3 universitas yang prestisius di Belanda dan Amerika Serikat dan selama dua tahun terus mencoba berbagai kemungkinan mengumpulkan dana studi.
Mereka percaya bahwa alasan kekurangan finansial tidak boleh menghalangi siapapun yang berusaha menempuh pendidikan. Meskipun saat ini dana untuk pengembangan sektor seni dan budaya di Indonesia masih sangat minim, potensi dukungan dari masyarakat harus terus digali dan dikembangkan. Kalau kesulitan ini tidak diatasi, akan semakin sedikit orang yang berani membangun karir dan menambah ilmu dalam dunia seni-budaya.
Melalui TUATUASEKOLAH, ketiga perempuan ini berupaya mengumpulkan dana beasiswa kolektif. Proyek pengumpulan dana ini tidak akan berhenti pada saat Cecil, Ellen dan Lisa berhasil mengumpulkan kebutuhan beasiswa mereka.
TUATUASEKOLAH akan berlanjut selama dunia seni-budaya Indonesia masih memiliki para profesional yang ingin mengembangkan diri lewat pendidikan dan selama masyarakat masih percaya bahwa dukungan mereka akan menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik.
Cecil Mariani (Cecil) diterima di program Master of Fine Arts Design, Designer as Author, School of Visual Arts, New York, Amerika Serikat. Program ini hanya menerima 20 mahasiswa per tahun. Pengajar sekolah ini terdiri dari desainer-desainer terkemuka seperti Milton Glaser, Stephen Heller dan Stefan Sagmeister. Cecil memilih bidang studi ini untuk mengembangkan bentuk-bentuk kolaborasi antar disiplin yang lebih berkelanjutan, lewat mengajar dan merintis laboratorium desain untuk indusri kecil menengah dan para pelaku seni.
Felencia Hutabarat (Ellen) diterima di program Creative Economics and Cultural Entrepreneurship di Erasmus School of History, Culture and Communication, Rotterdam, Belanda. Jurusan yang terbilang sangat baru ini didirikan untuk mempelajari lebih lanjut potensi dari ekonomi kreatif dan kontribusinya terhadap kemajuan sektor seni dan budaya. Ellen memilih bidang ini karena ingin menggali potensi sektor seni dan budaya yang terkait dengan ekonomi, sehingga praktisi kesenian dapat memanfaatkan kekuatan pasar untuk mendukung keberlanjutan karya kreatif mereka.
Lisabona Rahman (Lisa) diterima di program Preservation and Presentation of the Moving Image, Universiteit van Amsterdam, Belanda. Di seluruh dunia, jurusan dengan ilmu yang sangat spesifik ini hanya terdapat di 3 universitas. Lisa memilih bidang studi ini karena ingin memastikan film Indonesia dilestarikan agar dapat dinikmati generasi mendatang. Kondisi film klasik Indonesia yang ada sekarang, sebagian besar mengkhawatirkan. Jika tidak segera direstorasi, maka film-film ini akan rusak dan hilang dalam waktu dekat.
![]()
LISABONA RAHMAN
(Lahir: Lisabon, 10 Januari 1976)
Minat Bidang Studi: Pelestarian
Master’s Degree (MA) in Preservation and Presentation of the Moving Image, Faculty of Humanities, University of Amsterdam
Latar
Warisan sinema Indonesia berada dalam keadaan kritis. Sampai tahun 2010, hanya 27 kopi film seluloid yang dapat diselamatkan dengan susah payah oleh arsip film. Jumlah ini hanya kurang dari sepuluh persen dari 3.000 judul yang pernah dibuat di wilayah Nusantara sejak tahun 1926. Ini berarti sembilan puluh persen dari sejarah sinema Indonesia akan punah.
Kalau tak ada orang yang mengambil langkah perbaikan, sinema Indonesia akan berhenti memperkaya khazanah sinema dunia.
Tentang Pekerjaan
Lisa bekerja sebagai Manajer Program kineforum Dewan Kesenian Jakarta, bioskop seni pertama di Indonesia. Ia mulai menyadari betapa parahnya kondisi warisan sejarah sinema Indonesia sejak mulai mengerjakan program tahunan khusus untuk kineforum Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) berjudul ”Sejarah adalah Sekarang” (2007). Melalui hubungan kerja yang erat dengan arsiparsip film di Jakarta, ia mengetahui betapa kurangnya pengetahuan mengenai pelestarian film, baik dalam hal teknis maupun strategi manajemen. Sampai saat ini Indonesia belum memiliki seorangpun ahli dalam pengarsipan film dan dukungan untuk mengembangkan sumber daya arsip film masih sangat sedikit.
Materi sejarah sinema Indonesia yang terus memburuk kondisinya perlu perawatan yang tepat dan segera. Lisa ingin ikut memperbaiki keadaan ini. Ia ingin mengembangkan kualitas arsip film dengan presentasi yang lebih baik dengan jalan menimba ilmu yang relevan dan mengembangkan jaringan yang baik dengan arsip film di negara-negara lain.
Sejak tahun 2000 Lisa bekerja sebagai penyusun program film. Selain itu ia juga menulis artikel resensi film untuk media massa di dalam dan di luar Indonesia sejak 2004.
Selama lima tahun terakhir ia juga menjalankan inisiatif program tahunan khusus sejarah film Indonesia untuk DKJ yang dikunjungi oleh ribuan penonton. Untuk menjaga keberadaan sumber informasi sejarah film Indonesia, Lisa juga mewujudkan basis data web http://filmindonesia.or.id dan mempersiapkan Indonesia Film Center Foundation – sebuah fasilitas restorasi film secara digital.
Sejauh pengamatan Lisa, penonton Indonesia sangat menantikan kesempatan menonton dan menghargai sejarah sinemanya. Tanpa tindakan penyelamatan yang tepat, para penonton hanya akan mengenal sebagian kecil saja dari pencapaian sinema Indonesia, dengan kualitas yang jauh dari layak. Lisa yakin bahwa rencana belajar ini akan memungkinkan dia memberikan sumbangan profesional dalam menyelamatkan warisan budaya Indonesia dan menghubungkan kembali penonton Indonesia dengan sejarahnya yang terancam punah.
Tentang Minat Bidang Studi
Melalui pencarian informasi dan setelah mendapatkan saran-saran dari para arsiparis profesional di Asia-Pasifik, Lisa menemukan program studi yang ditawarkan oleh University of Amsterdam. Selama satu setengah tahun, program studi ini memungkinkan siswa memadukan penguasaan pengetahuan teoritis mengenai arkeologi film dengan praktik pengarsipan melalui magang di fasilitas arsip film. Universitas ini terletak di kota Amsterdam yang memiliki beberapa fasilitas arsip dan restorasi film yang termasuk paling baik di dunia. Kota ini pun sering menjadi tempat konferensi dan lokakarya bidang arsip film sehingga menjadi salah satu titik jaringan yang paling penting dalam profesi arsiparis.
Tentang Lisa
Ia anak tertua dari tiga bersaudara. Almarhum ayahnya dulu bekerja sebagai diplomat untuk Kementerian Luar Negeri RI dan ibunya seorang guru bahasa Inggeris. Mereka sekeluarga terbiasa tinggal berpindah-pindah dan mendapatkan banyak kesempatan mengenal berbagai bentuk kebudayaan dunia. Meskipun sering tinggal di negeri orang, kedua orangtuanya yang berlatar budaya Minang membiasakan ketiga anaknya untuk selalu berusaha menggali pengetahuan tentang Indonesia dan budaya Minangkabau sambil becermin pada budaya-budaya dunia yang lain. Mereka dibesarkan dengan kepercayaan bahwa budaya Indonesia adalah salah satu unsur penting budaya dunia.
Di dalam keluarga Lisa, kedua orangtuanya juga selalu berusaha meyakinkan ketiga anaknya bahwa hanya dengan pendidikanlah seseorang bisa memajukan diri dan masyarakatnya. Alasan kekurangan finansial tidak boleh menghalangi siapapun yang berusaha menempuh pendidikan setinggi yang ia mampu. Jika keinginan untuk menempuh pendidikan sudah bulat, maka orang itu harus menempuh berbagai cara mendapatkannya.
![]()
FELENCIA HUTABARAT
(Lahir di Jakarta, 19 Oktober 1978)
Minat Bidang Studi: Kewirausahaan Budaya
Nama Program Studi: Creative Economics dan Cultural Entrepreneurship, Universitas Erasmus, Rotterdam
Latar
Ellen melihat bahwa praktisi seni dan budaya di Indonesia saat ini harus berjuang keras untuk membiayai karya mereka dan memenuhi kebutuhan hidup di tengah minimnya dukungan dari pemerintah dan publik.
Pasca krisis finansial global, sektor seni dan budaya adalah salah satu sektor yang mengalami pemotongan dana subsidi yang cukup besar. Sebagai akibatnya, banyak organisasi budaya di Indonesia yang terancam tutup, terutama mereka yang didukung oleh lembaga donor asing seperti Hivos. Kebijakan pemerintah saat ini juga belum menciptakan situasi di mana dukungan lokal bisa diperoleh.
Sementara dari kalangan praktisi budaya sendiri, masih banyak yang belum menyadari potensi dari ekonomi kreatif untuk menghasilkan dana bagi keberlangsungan sektor itu sendiri. Studi mengenai ekonomi kreatif dari perspektif budaya sendiri masih sangat terbatas, sehingga praktik mengenai hal tersebut pun belum terlalu berkembang di Indonesia.
Ellen yakin studi ini dapat membuatnya memahami secara utuh aspek ekonomi seni dan budaya dan strategi-strategi kreatif yang diperlukan untuk membangun kewirausahaan di sektor budaya, instrumen ekonomi yang dipakai oleh pemangku kebijakan dan pelaku pasar, serta bagaimana menganalisa interaksi antara isu seni dan budaya dengan sektor lain seperti sosial dan pollitik.
Tentang Pekerjaan
Selama enam tahun terakhir Ellen bekerja di Hivos, lembaga donor Belanda yang mendukung organisasi dan sektor seni dan budaya di Indonesia sebagai Program O!cer untuk Seni dan Budaya.
Dalam periode ini ia berhasil memetakan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh sektor seni dan budaya di Indonesia dalam bidang manajemen kesenian, produksi pengetahuan, inovasi dan keberlanjutan finansial.
Sejak tahun 2007, Ellen terlibat aktif dalam usaha-usaha mencari dukungan finansial bagi sektor budaya di Indonesia. Ia menginisiasi riset untuk filantropi, membuat trajektori untuk pengembangan bisnis bagi dua organisasi budaya, dan advokasi untuk insentif pajak bagi seni dan budaya, agar dapat mengurangi ketergantungan pada donor luar negeri. Setelah studi ini ia merencanakan untuk membuat proyek untuk mempelajari potensi ekonomi kreatif.
Tentang Minat Bidang Studi
Setelah mencari dan membandingkan beberapa program studi di bidang ekonomi kreatif, Ellen memilih program Creative Economics dan Cultural Entrepreneurship di Universitas Erasmus, Rotterdam. Kurikulum sekolah ini mencari titik-titik temu antara seni, budaya dan ekonomi dengan perspektif kewirausahaan. Program ini terdiri dari studi teoritis dan praktik kerja di organisasi-organisasi kreatif.
Tentang Ellen
Ellen adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari orangtua dengan latar belakang Batak Toba. Ia besar di Jakarta dan sejak kecil sangat tertarik pada seni pertunjukan dan organisasi. Ayah Ellen adalah mantan wartawan ekonomi yang kemudian membuka usaha toko kelontong bersama ibunya. Ketika kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia Ellen mendirikan Forum Diskusi Mahasiswa Sastra. Kelompok ini terdiri dari para mahasiswi dan mereka secara rutin membuat diskusi mengenai persoalanpersoalan sosial-politik. Ellen juga aktif dalam kelompok teater mahasiswa sehingga ia mengalami sendiri permasalahan keberlanjutan organisasi seni-budaya.
![]()
CECIL MARIANI
(Lahir di Jakarta, 26 Maret 1978)
Minat Bidang Studi: Praktek Desain Alernatif
Nama Program Studi: Master of Fine Arts Design: Designer as Author/ Enterpreneur/Cultural Producer, School of Visual Arts, New York
Latar
Dunia kita berkembang semakin kritis dan memerlukan cara berpikir desain agar lebih tanggap terhadap kebutuhan sosial. Cecil melihat bahwa potensi besar kekuatan desainer komunikasi visual sebagai perekayasa pesan/bahasa dan sebagai produsen budaya di Indonesia untuk menimbulkan dampak perubahan belum dimanfaatkan maksimal oleh para pelakunya. Profesi ini sepintas nampak jinak dan seperti melupakan peranan inti dari alasan kelahirannya sendiri dalam peradaban manusia: sebagai agen perubahan sosial dan budaya.
Desain komunikasi visual pada hakekatnya adalah seni yang sosial. Mencarikan jalan, merancangkan sesuatu untuk menyajikan pesan apapun kepada khalayak adalah suatu praktek sosial. Cecil percaya bahwa dalam keilmuan desain, tingkat pendalaman disiplinnya bukannya semakin spesifik ke satu subjek namun makin melebar jangkauan jelajahnya dan makin lintas disiplin.
Tentang Pekerjaan
Sejak tahun 1999 Cecil bekerja sebagai desainer grafis untuk industri. Ia kemudian lebih banyak tertarik pada program atau proyek seni-budaya. Cecil juga adalah pengajar di Universitas Pelita Harapan sejak tahun 2001. Dalam praktik desain dan mengajar ia melihat banyak potensi kolaborasi antar disiplin yang belum tergali dengan maksimal.
Ia mengikuti proyek kolaborasi antara arsitek, jurufoto, penulis dan musisi berjudul Imagining Jakarta pada tahun 2004. Sejak itu Cecil aktif mengikuti berbagai lokakarya dan inisiatif kolaborasi dengan seniman pertunjukan dan sastra. Cecil ingin mengembangkan bentuk-bentuk kolaborasi antar disiplin yang lebih berkelanjutan lewat mengajar dan merintis laboratorium desain untuk industri kecil menengah dan para pelaku seni.
Tentang Minat Bidang Studi
Cecil ingin memfokuskan diri pada gagasan desainer sebagai produsen budaya. Ini adalah program studi yang ia pilih di School of Visual Arts, New York.
Program ini baru diterapkan di sekolah desain dengan dasar pemikiran bahwa desainer bekerja untuk dua sektor sosial: sektor produksi (industri) dan masyarakat. Karenanya desainer harus berperan lebih aktif dalam menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik bagi manusia dan lingkungannya. School of Visual Arts, New York adalah salah satu inisiator Pakta Designers’ Accord yang merupakan janji profesi ini untuk selalu bekerja demi agenda kelangsungan hidup manusia untuk lingkungan yang berkelanjutan.
Tentang Cecil
Cecil adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Orangtua Cecil berasal dari komunitas Tionghoa di Semarang. Cecil dan kakaknya yang tertua bekerja di bidang seni visual. Sejak kecil ia sangat gemar menggambar dan mengikuti kursus lukis, sehingga ia sering memenangi kompetisi lukis.
Ayah Cecil bekerja sebagai pegawai perusahaan distribusi alat-alat kesehatan dan ibunya bekerja di rumah sambil mengurus rumah tangga.
Lingkungan seniman dan aktivis sosial yang dikenal Cecil melalui proyek-proyek kolaborasi membawanya lebih dekat pada kemungkinan-kemungkinan aplikasi gagasan tentang desain sosial.
![]()
Artikel terkait: TUATUASEKOLAH Notebooks di Harian The Jakarta Globe!
![]()
Kembali ke halaman utama » DGI Bookstore
DGI Bookstore mendistribusikan karya artis, desainer dan penulis seni budaya Indonesia (art & design book, design-related merchandise, artwork, handicraft dll.) ke seluruh Indonesia, dan semoga kelak juga ke berbagai negara.
Alamat: Lumut Hijau Kav. 332 Blok L, Cinere, Depok, Indonesia 16514 | Telepon: +62217541360, +6285890232310, +6281806027099 | Email: store@dgi-indonesia.com | Web site: Under construction | Rekening: BCA Cabang Pondok Indah. No. 2371360907 a/n Hanny Kardinata. Login ke www.klikbca.com, Bank Mandiri Cabang Bintaro. No. 1640000247785 a/n Hanny Kardinata. Login ke www.bankmandiri.co.id















Tipografi dalam Desain Grafis
www.underconsideration.com

Testimonial:
Terimakasih bukunya telah diterima dalam keadaan baik. Bukunya bagus, designnya simple :-) – Kurniawaty Gautama, Bali
Testimonial:
Barang baru saja hari ini sampai. Mantap bukunya… – Robertus Benny Murdhani, Jakarta
produk sudah di terima dengan baik, cepet, and good packaging
2thumbs untuk DGI
Dari Monica Winny, Jakarta, 3 November 2011, 20.10 wib:
Dear DGI Bookstore,
Sudah sampai kirimannya, kemarin sih sekitar Selasa sudah sampai yah. Lumayan cepat juga.
Terima kasih banyak atas kiriman cepatnya, soalnya buat hadiah ultah teman juga. ^___^
Best Regard,
Monica