Kategori Scopa Award (Craftsmanship Excellence)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Kategori Scopa Award (Craftsmanship Excellence)
Penghargaan Scopa Award adalah penghargaan khusus yang dipersembahkan oleh PT Surya Palacejaya terhadap karya desain grafis yang memiliki keterampilan unggul dalam mengolah kertas pada proyek atau tugas desain grafisnya.
SENIOR
- Hermawan Tanzil (LeBoYe) – “Bunga Rampai” Restaurant
- Kartika Jahja (inlander) – Kemasan album CD “The Headless Songstress” – Tika & the Dissidents’ > Meraih Trophy IGDA 2009
- Novita Anka (Octodesign) – Profile “Menteng 36″
YUNIOR
- Eva Winata (DKV UPH) – Buku “Kokoro” > Meraih Trophy IGDA 2009
Silakan meng-klik masing-masing karya untuk melihat detailnya.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Hermawan Tanzil (LeBoYe) – Bunga Rampai Restaurant – Menu
•••

Kartika Jahja (inlander) – Kemasan album CD “The Headless Songstress” – Tika & the Dissidents’
•••

Novita Anka (Octodesign) – Profile “Menteng 36″
•••

Eva Winata (DKV UPH) – Buku “Kokoro”
•••











































29. May 2010 um 07:34
Two thumbs untuk Pak Hermawan & Leboye, karyanya memang luar biasa, tapi untuk Kokoro dimana letak craftsmanshipnya ya?
Koq desainnya ga dimengerti letak indahnya? sorry ya.. he.. he..
30. May 2010 um 05:50
Iya desain buku kokoro itu aneh, penghamburan halaman kosong tanpa makna, g ada craftsmanshipnya. kayaknya buku ini nggak bisa ditujukan untuk khalayak sebab yg ngerti bagusnya cuma orang orang tertentu.
30. May 2010 um 15:39
aku berbeda dengan davis dan ferrari…kokoro tinggi banget estetiknya…perlu dibaca subjectnya itu buku interpretasi visual thdp puisi. Puisi itu dah masuk ranah “sastra tinggi”, maka pendekatan visual pun juga tidak menurunkan hakekat puisi. memang tidak ditujukan untuk khalayak yang sembarangan. desainernya pun pasti sudah memperkirakan buat siapa buku itu.
31. May 2010 um 14:06
Di IGDA 2010 Award nantinya harus ada satu kategori lagi. Yakni kategori DESAIN EXCELLENT DENGAN HARGA MURAH/BANTINGAN ATAU TANPA BUDGET. Karena kebanyakan pada level inilah realita yang terjadi di dunia desain kita.
2. June 2010 um 16:31
To Obed, nilai estetika yg tinggi hendaknya punya tolok ukur standard yg sama antara sesama pecinta puisi dan esensi desain komunikasi visual adalah mampu menkomunikasikan pesan dalam hal ini isi dari buku kokoro. Saya yakin enggak semua pecinta puisi memahami arti dari gambar illustrasi pada buku ini. yg dikhawatirkan jangan2 yg ngerti cuma desainernya saja. sedangkan tujuan membuat buku ini tentunya untuk khalayak pecinta puisi tingkat tinggi, bukan untuk diri sendiri bukan? dalam hal ini khalayak tentunya punya tingkatan sense estetika dan pemahaman komunikasi yg berbeda2, jadi mnrt saya janganlah kita membuat desain hanya dari tolok ukur standar kacamata desainer saja. namun ada baiknya meninjau kembali desain yg telah kita buat agar tercapai persamaan persepsi di antara desainer dan khalayak dalam hal ini pecinta puisi.
2. June 2010 um 18:04
Menurut sudut pandang awam, buku kokoro koq lebih mirip desain katalog contoh2 kertas fancy.
2. June 2010 um 18:07
mungkin kokoro terlihat berkelas karena terbantu lighting saat di photo.
2. June 2010 um 18:08
lebih mirip buku catalog kertas.
1. July 2010 um 14:04
maaf, tapi menurut saya sebaiknya kita semua membaca dulu buku puisi kokoro tersebut sebelum menilai segi visualnya, karena sang desainer pasti sudah memikirkan matang2 representasi visual dari puisi tersebut, bukan sekedar bermain efek dan menghamburkan kertas.
10. October 2011 um 18:01
hehehe…. ini pendapat awam yang ga boleh dipandang sebelah mata, memang benar dari segi estetika buku kororo sangatlah tinggi bagi yang mengerti tentang estetika, PERTANYAANNYA: Bagaimana bagi khalayak tidak mengerti tentang estetika baik dalam segi puisi maupun seni… tapi pendapat buku ini hanya untuk kalangan tertentu pun tidak dapat dipungkiri
15. October 2011 um 17:47
Maaf nimbrung, menurut saya, kalau karya Kokoro ini memang ditargetkan untuk “pihak2 tertentu” yang bisa mengerti estetika dari bukunya, kenapa tidak boleh? apakah ada ditulis keterangan kalau targetnya untuk orang awam? Jujur, saya sendiri pun masih belum bisa mengerti dengan desain yang seperti ini, tapi setidaknya saya mau berpikir terbuka. hendaknya sebelum mengkritik karya orang lain, kita perlu ngerti dulu apa yang kita kritiki. terima kasih.
6. November 2011 um 15:13
Menurut saya value Kokoro itu lebih dari sekedar visual estetika. Buku itu dirancang sedemikian rupa sehingga puisi yang di dalamnya dapat di’rasa’kan oleh pembaca. Puisi yang ada di dalam buku itu tidak dapat dipisahkan dari gimmick2 yang ada di setiap halaman.
Penggunaan vellum paper dengan kesederhanaan dan modesty seperti itu hanya dapat dilakukan setelah pengertian yang dalam akan budaya Jepang yang sangat khas ditunjukan oleh craftmanship buku ini.
Berbeda dengan buku yang hanya visual, buku ini menawarkan experience yang dapat dirasakan mulai dari sentuhan, visual – audio (lewat garis2 yang membentuk semacam pola gelombang), dinamis dari repetisi objek2 yang dirancang dengan begitu indah dengan menggunakan vellum paper, pengertian akan white space.
this book is great!
6. November 2011 um 19:35
Hmm karyanya bagus2…cuma bagaimana kalau level senior tidak perlu diikutkan lagi. Menghindari nama-nama yang sama dan memberikan kesempatan kepada nama-nama baru. Saya rasa mengangkat junior to mid level lebih menarik…