














<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="0.92">
<channel>
	<title>irwan ahmett &#38; tita salina</title>
	<link>http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/ahmettsalina</link>
	<description>DGI Online Exhibition #04</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Aug 2010 08:42:09 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	<!-- generator="WordPress/3.0.1" -->

	<item>
		<title>Play #9: Keep Playing</title>
		<description><![CDATA[Irwan dan Tita sangat tertarik dengan fenomena pegunungan Himalaya, dari zaman purbakala hingga saat ini banyak tokoh spiritual dari berbagai agama dan kepercayaan melakukan perjalanan sucinya melintasi pegunungan raksasa bersalju yang membentang dari India, Tibet, Cina, Pakistan, Bhutan dan Nepal tersebut. Memang dunia terasa menjadi sangat jauh disana, yang ada hanyalah kesunyian, dingin, walaupun panas [...]]]></description>
		<link>http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/ahmettsalina/play-9-keep-playing-2/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Play #8: Street Fashion</title>
		<description><![CDATA[Berpakaian adalah sebuah konsep ekspresi! Sebagai makhluk berakal berpakaian sudah menjadi kewajiban, cara berpakaian mencerminkan karakter pemakainya, bahkan telah menjadi ekspresi untuk mengungkapkan sebuah pesan. Kali ini Jakarta sebagai sebuah kota yang tidak terpisahkan dari kaki lima menjadi inspirasi bagi Ahmett dan Salina sebagai sebuah cara menata dan memberikan kejutan dari sesuatu yang biasanya terabaikan [...]]]></description>
		<link>http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/ahmettsalina/play-8-street-fashion/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Play #7: Hidden Messages</title>
		<description><![CDATA[Melalui Urban Play #7, Irwan Ahmett dan Tita Salina dibantu oleh 11 partisipan (Ajeng Sekartaji, Dwi Tirtadji, Nastasha Abigail, Nanda Ulfa, Erine Agnissary, Fuad Adiputra, Andre David, Johan Ardhika, Hafiz Irsan, Karina Sigar, Hardiyanto Thio) telah menyembunyikan rangkaian pesan rahasia di sudut-sudut kota Jakarta. Kami mengajak Anda untuk menjadi &#8216;The Hunter&#8217; dengan memburu dan menyusun [...]]]></description>
		<link>http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/ahmettsalina/play-7-hidden-messages/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Play #6: Sweaty Map</title>
		<description><![CDATA[Sampai tulisan ini diturunkan genap sudah 17 tahun saya tinggal di Ibu Kota, banyak yang sudah berubah namun Jakarta tetap menyimpan segudang masalah yang sama. Selama rentang waktu tersebut saya merasakan ‘jarak’ yang semakin menjauh antara saya sebagai warga dengan situasi Jakarta yang sesungguhnya. Apakah Jakarta yang meninggalkan saya atau secara perlahan saya menolak berada [...]]]></description>
		<link>http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/ahmettsalina/play-6-sweaty-map/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Play #4: Monorail Slalom dan Play #5: Jakarate</title>
		<description><![CDATA[Sebuah permainan yang terinspirasi dari terbengkalainya rencana struktur transportasi massal dan tidak terpeliharanya fasilitas umum di Jakarta. Play #4: Monorail Slalom Siapa tidak miris melihat banyaknya tiang pancang yang berada di beberapa titik strategis Jakarta (diantaranya membentang di area Kuningan dan Senayan). Kokohnya tiang beton seakan tidak mampu menopang mimpi untuk mewujudkan transportasi yang lebih [...]]]></description>
		<link>http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/ahmettsalina/urban-play-4-monorail-slalom-dan-play-5-jakarate/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Play #3: Dancing Umbrellas</title>
		<description><![CDATA[Menyikapi ruang jalan di Jakarta seperti halnya mengukur seberapa jauh kita mampu melihat kedalam nilai nurani manusia. Demi alasan ketertiban penggusuran kaki lima kerapkali menjadi isu konflik tiada ujung. Pemerintah gencar memberantas sementara pedagang waspada bergerilya dengan kedatangan petugas, karena bagi mereka tidak berjualan berarti tak bisa makan dan pulang. Pedagang kaki lima harus berbenturan dengan peraturan [...]]]></description>
		<link>http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/ahmettsalina/play-3-dancing-umbrellas/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Play #2: Public Furniture</title>
		<description><![CDATA[Irwan Ahmett dan Tita Salina mendesain &#8220;Public Furniture&#8221; dengan memanfaatkan Found Object (toko kayu) bersama para tukang kayu. Selain sangat kokoh terbebas dari tangan jahil, juga memanfaatkan ruang penyimpanan kayu yang sudah tersedia tanpa harus membuat proyek berlebihan seperti para pembuat infrastruktur Kota Jakarta saat ini yang seringkali membangun sesuatu atas tujuan nilai proyek semata. [...]]]></description>
		<link>http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/ahmettsalina/play-2-public-furniture-2/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Play #1: Color Blindness Test</title>
		<description><![CDATA[Peranan pasar sebagai pusat transaksi dan urat nadi distribusi kebutuhan sandang, pangan dan papan berperan sangat vital dalam memberikan identitas sebuah kota, pasar bukan hanya dipakai sebagai media ekonomi namun kini menjadi tempat paling ampuh bagi politikus untuk mengambil simpati masyarakat kalangan akar rumput. Dewasa ini pasar tradisional mendapat pesaing dari pasar modern dengan nama [...]]]></description>
		<link>http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/ahmettsalina/play-1-color-blind-test/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Hidup jangan terlalu serius karena tak seorangpun bisa melewatinya hidup-hidup (Urban Therapy – When designers playing in their city)</title>
		<description><![CDATA[Irwan Ahmett dan Tita Salina percaya bahwa manusia terlahir untuk bermain, dimulai dari zaman bermain di bawah terang purnama hingga era tablet digital, permainan selalu dijadikan alasan untuk lari dari rutinitas, kompetisi, membunuh waktu luang hingga memberikan sebuah sensasi kesenangan. Ada sejuta alasan bahwa permainan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kodrat manusia, selain dapat [...]]]></description>
		<link>http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/ahmettsalina/irwan-ahmett-dan-tita-salina-mengajak-para-desainer-grafis-untuk-bermain-dengan-berinteraksi-dalam-dgi-online-exhibition-4/</link>
			</item>
</channel>
</rss>

