Irwan dan Tita sangat tertarik dengan fenomena pegunungan Himalaya, dari zaman purbakala hingga saat ini banyak tokoh spiritual dari berbagai agama dan kepercayaan melakukan perjalanan sucinya melintasi pegunungan raksasa bersalju yang membentang dari India, Tibet, Cina, Pakistan, Bhutan dan Nepal tersebut. Memang dunia terasa menjadi sangat jauh disana, yang ada hanyalah kesunyian, dingin, walaupun panas membakar kulit. Para ‘Pencari Tuhan’ bertebaran dari pedesaan hingga ashram asik masyuk dalam kekhusuan.
Perjalanan mereka sangatlah singkat namun setidaknya Irwan dan Tita semakin percaya bahwa permainan mampu mendatangkan kebahagiaan yang mendalam, seolah tangan Tuhan ikut bertepuk tangan mengakhiri rangkaian permainan mereka.
Sebagai makhluk berakal berpakaian sudah menjadi kewajiban, cara berpakaian mencerminkan karakter pemakainya, bahkan telah menjadi ekspresi untuk mengungkapkan sebuah pesan. Kali ini Jakarta sebagai sebuah kota yang tidak terpisahkan dari kaki lima menjadi inspirasi bagi Ahmett dan Salina sebagai sebuah cara menata dan memberikan kejutan dari sesuatu yang biasanya terabaikan dan menjadikannya bentuk berpakaian ala jalanan Jakarta.
Melalui Urban Play #7, Irwan Ahmett dan Tita Salina dibantu oleh 11 partisipan (Ajeng Sekartaji, Dwi Tirtadji, Nastasha Abigail, Nanda Ulfa, Erine Agnissary, Fuad Adiputra, Andre David, Johan Ardhika, Hafiz Irsan, Karina Sigar, Hardiyanto Thio) telah menyembunyikan rangkaian pesan rahasia di sudut-sudut kota Jakarta. Kami mengajak Anda untuk menjadi ‘The Hunter’ dengan memburu dan menyusun kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang utuh dan menyentuh. Maaf kami tidak menyediakan hadiah, namun perjalanan Anda bisa menjadi sebuah kisah antara kita dengan Jakarta. Kirimkan foto aksimu ke: ahmettsalina@gmail.com
Sampai tulisan ini diturunkan genap sudah 17 tahun saya tinggal di Ibu Kota, banyak yang sudah berubah namun Jakarta tetap menyimpan segudang masalah yang sama. Selama rentang waktu tersebut saya merasakan ‘jarak’ yang semakin menjauh antara saya sebagai warga dengan situasi Jakarta yang sesungguhnya. Apakah Jakarta yang meninggalkan saya atau secara perlahan saya menolak berada disini?
Saya merasa berdosa dengan kota ini!
Berikut adalah daftar dosa saya terhadap Jakarta:
• Saya merasa semakin hipokrit! Sanggup mengorbankan apa saja untuk bertemu dengan client namun sulit sekali untuk menyediakan sedikit waktu untuk keluarga.
• Internet benar-benar telah membenamkan saya dari kehidupan sosial yang sesungguhnya.
Sebuah permainan yang terinspirasi dari terbengkalainya rencana struktur transportasi massal dan tidak terpeliharanya fasilitas umum di Jakarta.
Play #4: Monorail Slalom
Siapa tidak miris melihat banyaknya tiang pancang yang berada di beberapa titik strategis Jakarta (diantaranya membentang di area Kuningan dan Senayan). Kokohnya tiang beton seakan tidak mampu menopang mimpi untuk mewujudkan transportasi yang lebih baik. Rencana membangun monorail masih menyisakan banyak tanda tanya, harapan Jakarta dapat berdiri sejajar dengan kota besar lain di dunia tenggelam dalam ketidakpastian. Puluhan tiang yang telah terpancang membuat para pengambil kebijakan ‘lari’ dari kenyataan. Kita perlu transportasi yang manusiawi! Irwan Ahmett dan Tita Salina merefleksikan sisi ironis Jakarta Monorail dengan mengajak para pejalan kaki untuk jogging bersama, setidaknya tiang tersebut masih berfungsi sebagai media olahraga bagi warga. Sebuah permainan ditengah kegetiran!
Menyikapi ruang jalan di Jakarta seperti halnya mengukur seberapa jauh kita mampu melihat kedalam nilai nurani manusia. Demi alasan ketertiban penggusuran kaki lima kerapkali menjadi isu konflik tiada ujung. Pemerintah gencar memberantas sementara pedagang waspada bergerilya dengan kedatangan petugas, karena bagi mereka tidak berjualan berarti tak bisa makan dan pulang.
Pedagang kaki lima harus berbenturan dengan peraturan daerah. Dituding salah satu penyebab sumber kemacetan dan mengganggu citra Jakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia. Dengan banyak alasan dan cara mereka disingkirkan secara paksa. Memang jika dibiarkan pedagang kaki lima bisa berkembang liar kemana-mana, namun bagi saya mereka menyimpan segudang potensi dan mampu diajak kompromi bahkan dengan komunikasi yang baik mereka memahami dan sejenak melupakan beratnya tekanan hidup, bersama-sama tertawa dan memperagakan sebuah pertunjukan kolosal jalanan; ‘Dancing Umbrellas’.
Project ini merupakan sebuah miniatur kerjasama yang dapat direfleksikan oleh berbagai pihak untuk mewujudkan Jakarta menjadi tempat yang bersahabat bagi kita semua.
Irwan Ahmett dan Tita Salina mendesain “Public Furniture” dengan memanfaatkan Found Object (toko kayu) bersama para tukang kayu. Selain sangat kokoh terbebas dari tangan jahil, juga memanfaatkan ruang penyimpanan kayu yang sudah tersedia tanpa harus membuat proyek berlebihan seperti para pembuat infrastruktur Kota Jakarta saat ini yang seringkali membangun sesuatu atas tujuan nilai proyek semata.
Tuesday, May 04th, 2010
| Play #1: Color Blindness Test.
| Follow : RSS 2.0 feed.
You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
Peranan pasar sebagai pusat transaksi dan urat nadi distribusi kebutuhan sandang, pangan dan papan berperan sangat vital dalam memberikan identitas sebuah kota, pasar bukan hanya dipakai sebagai media ekonomi namun kini menjadi tempat paling ampuh bagi politikus untuk mengambil simpati masyarakat kalangan akar rumput.
Tuesday, April 27th, 2010
| From Us.
| Follow : RSS 2.0 feed.
Irwan Ahmett dan Tita Salina percaya bahwa manusia terlahir untuk bermain, dimulai dari zaman bermain di bawah terang purnama hingga era tablet digital, permainan selalu dijadikan alasan untuk lari dari rutinitas, kompetisi, membunuh waktu luang hingga memberikan sebuah sensasi kesenangan. Ada sejuta alasan bahwa permainan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kodrat manusia, selain dapat memberikan stimulasi positif bagi otak, bermain merupakan sebuah bahasa universal yang dimiliki oleh semua makhluk yang berotak. Kita bisa lihat sampai detik ini video game berkembang menjadi industri raksasa dengan berbagai inovasi teknologinya. Bahkan permainan manual kubus warna-warni Rubik’s yang meledak di tahun 80-an kini kembali menjadi candu generasi digital. Mau yang lebih seru? Mari kita lihat apa yang akan terjadi pada pertengahan tahun 2010, milyaran mata dari seluruh penjuru planet bumi akan tertuju pada sebuah benda berdiameter 35 cm seberat 400gr. Sebuah maha drama permainan sepak bola dunia akan berlangsung di Afrika. Why so serious? Menjadi sebuah kata sakti sang Joker untuk memainkan karakter psikopatnya seakan tidak hanya membuat jengkel sang Batman namun mentertawakan manusia yang sangat serius menyikapi hidupnya.