Desain Grafis Indonesia

Desain Grafis Indonesia

Fostering understanding among Indonesian graphic designers and its juncture in art, design, culture and society

Museum DGI dalam Pameran Ekonomi Kreatif-Indonesia Bisa!: Sebuah Laporan Sekilas Usai Acara

Pada tanggal 7 hingga 10 Agustus lalu telah diadakan Pameran Ekonomi Kreatif – Indonesia Bisa! di Jakarta, meliputi tiga lokasi sekaligus: Grand Indonesia, Mal Kelapa Gading, serta Senayan City. Pameran ini dibuka oleh Isteri Presiden RI, Ibu Ani Yudhoyono. Museum Desain Grafis Indonesia (MDGI) diundang untuk berperan serta dalam pameran ini. MDGI menampilkan beberapa karya dari komikus muda Bandung yang diwakili oleh mahasiswa-mahasiswa dan dosen muda dari Desain Komunikasi Visual ITB, praktisi desan grafis Bandung Rudy Farid, hingga karya desainer senior Hanny Kardinata. Berhubung ruang yang terbatas dan waktu persiapan yang sangat pendek, maka MDGI tidak mampu menghadirkan karya-karya desain grafis Indonesia secara kronologis ataupun komprehensif.

Selain berpameran MDGI juga mengadakan dua acara: pertama talkshow bertema “Desain Grafis dalam Ekonomi Kreatif Indonesia”. Kedua, diskusi dengan judul “Ngobrol dengan Desainer Grafis – Wedha’s Pop Art Portrait”. Acara ini diadakan untuk mencoba memahami permasalahan desain grafis terkini di Indonesia – khususnya terkait dengan ekonomi kreatif, serta kiprah seorang illustrator dan desainer grafis senior yang hingga kini masih terus berkarya. Secara tidak langsung kedua rangkaian diskusi ini juga menjelaskan bahwa permasalahan yang menjadi perhatian dari sebuah museum tidak harus melulu berkonotasi sejarah desain grafis di masa lalu. MDGI juga berkepentingan dengan permasalahan desain grafis yang berkembang di masa kini.

Talkshow “Desain Grafis dalam Ekonomi Kreatif Indonesia” yang diadakan tanggal 7 Agustus lalu menghadirkan desainer Ayip (Matamera Communication – Bali), Iwan Esjepe (Indonesia Bertindak – Jakarta), Hastjarjo B Wibowo (Indonesia Design Power), M Arief Budiman (ketua Adgi chapter Yogyakarta, Petakumpet). Eka Sofyan Rizal (ketua Forum Desain Grafis Indonesia, Paprieka Jakarta). Adapun Lans Brahmantyo (Afterhours group – Jakarta) berhalangan hadir.

Ayip membuka talkshow dengan mempresentasikan karya-karya desain yang dia bukukan dengan judul “I See Indonesia”. Buku yang diterbitkan dalam rangka hari Kebangkitan Nasional ini dipresentasikan secara menarik oleh Ayip. Menurut dia buku ini merupakan kumpulan pemikiran-pemikirannya yang dituangkan secara visual dalam bentuk desain grafis. Harus diakui bahwa upaya dia menerbitkan sebuah buku berisi kumpulan desain grafis mengenai pemikiran kebangsaan dan keindonesiaan adalah sebuah terobosan menarik yang, sepengetahuan kami, baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Presentasi berikutnya mengenai kampanye sosial “Indonesia Bertindak” yang dimotori oleh Iwan Esjepe dan isterinya, Indah Esjepe. Kampanye Indonesia Bertindak merupakan sebuah upaya dua orang yang peduli pada nasib negeri ini – melawan kampanye negatif dari beberapa negara besar yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negeri yang tidak aman untuk dikunjungi. Kampanye yang dilakukan oleh Iwan dan Indah berbunyi: “Travel Warning: Indonesia – Dangerously Beautiful”, disebarkan melalui media propaganda t-shirt dan sticker.

Kecintaan ketiga orang yang bergerak dalam dunia komunikasi visual di atas dilakukan tanpa dana dari, ataupun mengatasnamakan – institusi pemerintah, partai, lembaga, atau perusahaan apapun. Mereka melakukan kampanye melalui media desain grafis tersebut semata-mata atas nama pribadi, berdasarkan kecintaan mereka pada negeri dan bangsa ini tanpa pretensi dan kepentingan atau orientasi ‘politik’ apapun. Presentasi dari Ayip dan Iwan menyadarkan bahwa ada sebuah kata yaitu “BANGSA” yang masih sangat penting untuk kita ingat dan perjuangkan – tanpa kita harus peduli pada siapa presidennya, partai apa yang berkuasa di parlemen, apa pilihan partai kita di Pemilu, dan sebagainya. Kita sebagai bangsa Indonesia bisa tetap mencintai negeri ini sepenuh hati – tanpa harus terikat pada ideologi apapun, karena kita tinggal dan hidup di negeri yang indah ini. Tampaknya semangat dan cinta kebangsaan inilah yang sangat dibutuhkan dalam upaya kita mengembangkan industri dan ekonomi kreatif Indonesia. Tanpa semangat kebangsaan sebagaimana yang ditampilkan oleh Ayip dan Iwan, maka sulit bagi kita mengembangkan ekonomi kreatif.

Setelah Ayip dan Iwan Esjepe, pembicara berikutnya adalah Hastjarjo B WIbowo dari Indonesia Design Power (IDP). Hastjarjo mencoba menjelaskan bahwa pemerintah, dalam hal ini Departemen Perindustrian dan Perdagangan telah merancang sebuah rencana dan arah kerja, yang disebut roadmap, mengenai ekonomi kreatif. Menurut Hastjarjo roadmap yang dirancang ini sebelumnya telah melalui berbagai tahap diskusi dan urun-rembug dengan berbagai kalangan desainer. Sebelum dibuat roadmap ini telah dipetakan sejumlah 14 sub-sektor industri kreatif yang ada di Indonesia, mulai dari kerajinan tradisional hingga industri musik, dan industri desain web. Kemudian, IDP juga telah mengumpulkan pemikiran dari berbagai kelompok pelaku dalam profesi desain grafis – sebagai bagian dari triple helix (intelektual – pemerintah – dunia bisnis). Langkah berikutnya yang akan diambil oleh pemerintah bersama IDP, menjawab pertanyaan Nico A Pranoto (Sekjen ADGI Pusat), adalah mensosialisasikan roadmap ekonomi kreatif itu secara meluas dan merata keberbagai kalangan yang terlibat dalam ekonomi kreatif. Bahkan masih menurut Hastjarjo B Wibowo, pemerintah bersama IDP tidak menutup kemungkinan apabila roadmap itu akan dikritisi dan dikoreksi oleh para pelaku industri dan perekonomian kreatif, sehingga roadmap akan semakin sempurna.

Pembicara berikutnya adalah M Arief Budiman yang dengan sangat menarik dan penuh humor menjelaskan betapa pentingnya pengembangan ekonomi kreatif bagi masyarakat luas di daerah. Arief Budiman memberi contoh bagaimana masyarakat di sekitar tempat tinggalnya di Bantul – Yogyakarta, mendapat demikian banyak keuntungan berkat ekonomi kreatif yang dikembangkan Arief Budiman melalui biro desain Petakumpet nya. Dengan dukungan jaringan internet yang baik bisnis kreatif yang digeluti mampu menghasilkan proyek-proyek dengan skala internasional – tidak terikat pada batas-batas antara-negara. Pembicara berikutnya adalah Eka Sofyan Rizal, ketua Forum Desain Grafis Indonesia sekaligus pendiri Paprieka. Eka Sofyan Rizal menjelaskan betapa pentingnya kerjasama diantara para desainer dan lembaga akademisi. Hal inilah yang coba dijembatani oleh FDGI.

Pada hari Minggu 10 Agustus pukul 13.00 diadakan diskusi dengan mengundang Wedha. Pengunjung, tua-muda cukup ramai memenuhi tempat duduk dimuka panggung Pameran Ekonomi Kreatif – Indonesia Bisa!. Wedha namanya sudah sangat dikenal melalui berbagai tampilan ilustrasi dan sampul wajah majalah remaja HAI, sejak tahun 70-80an. Setelah bergelut dalam dunia desain grafis selama 30 tahun lebih, Wedha terus berkarya menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Wedha tidak gagap menghadapi perkembangan pesat teknologi komputer grafis. Dahulu Wedha akrab menggunakan kertas kalkir sebagai sarana mendistrosi dan memanipulasi wajah seorang tokoh selebiritis untuk menjadi ilustrasi di majalah Hai.

Kini Wedha dengan terampil menggunakan teknologi komputer grafis menciptakan ilustrasi bergaya Pop Art untuk menghiasi majalah HAI. Bahkan dengan teknik yang dinamakan Foto Marak Berkotak (FMB) Wedha merambah seni lukis. Telah 20an lebih lukisan kanvas diciptakan olehnya, meliputi wajah Bung Karno, Elvis Presley, hingga Barrack Obama. Beberapa lukisan wajah tokoh-tokoh terkenal itu dibawa ke atas panggung selama acara diskusi berlangsung, sehingga memberikan suasana yang menarik. Setelah lukisannya mencapai 30 buah maka Wedha berencana akan menggelar pameran lukisan tunggal. Sebuah semangat berkarya yang tak lekang oleh waktu. Rangkaian pameran Museum Desain Grafis Indonesia serta acara “Ngobrol dengan Desainer” dan talkshow terselenggara dengan baik berkat dukungan mitra-mitra MDGI yaitu: PT Paperina Dwijaya, PT Indonesia Printer, Majalah Desain Grafis Concept, serta PT Friendly Solutions.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Hanny Kardinata di stand Museum DGI, Atrium Senayan City

Stand Museum DGI di Senayan City

Ribka Pramudita, Sekretaris Museum DGI bersama temannya

Suasana di stand Museum DGI

Suasana di stand Museum DGI

Bima, penggambar katikatur di atas t-shirt. Coretan-coretannya laris manis.

Hanny Kardinata dan Iwan Esjepe (Founder “Indonesia Bertindak”, Executive Creative Director “ideasphere”)

Mulyono dan M Arief Budiman (Ketua ADGI Chapter Yogya)

Museum DGI menghadirkan Wedha, ilustrator majalah Hai dalam acara Ngobrol dengan Desainer Grafis, 10 Agustus, di panggung Pameran Ekonomi Kreatif “Indonesia Bisa!”

Ribka Pramudita memandu acara ngobrol bersama Wedha

Wedha, dengan salah satu karyanya

Secara kronologis Wedha menuturkan perjalanannya sebagai ilustrator

Wedha dengan siluet Lupus yang dengan jambul, buntut dan gelembung permen karet di mulutnya pernah populer di kalangan remaja tahun 80′an

Pengunjung yang kebanyakan adalah fans Wedha di sekeliling panggung acara

Nyanyian riang Wedha di akhir acara sebagai hadiah bagi pengunjung

Terima kasih kepada Wedha…

Seruan kepada pengunjung untuk memberikan tepuk tangan meriah bagi Wedha

Hermawan Tanzil, Wedha dan isteri, bersama para aktivis MDGI: Mulyono, Arief Adityawan S, Ribka Pramudita dan Hanny Kardinata

Fotografi: Arief Adityawan S dan Ari Santosa

•••

« Previous Article Next Article »

COMMENTS

  1. Wow..
    Trima kasih udah sharing ini, pak Hanny.

  2. pak wedha jagoan, trima kasih sharenya pak.

  3. terima kasih kembali cha… juga radhinal. salam :-)

  4. BIG Step for Indonesia Graphic Design!
    Simple step always be the beginning of the big step.
    Han, Adit, and friends…. you did a great job!

    very proud,
    Henricus Kusbiantoro

  5. terima kasih henri, tanpa dukungan tulus dari henri – dengan sistem branding museum dgi-nya – kami mungkin akan ‘sesat di jalan’.

  6. sayang waktu itu saya lagi sibuk pameran di balai kartini ngurus ukm… lain kali mungkin bisa ikut

  7. Menarik sekali membaca laporan “Museum DGI dalam Pameran Ekonomi Kreatif-Indonesia Bisa”. Bagus sekali. Dan iri banget, tidak bisa melihat dan hadir langsung. Success Mas Hanny dkk. Bravo!

  8. waduh, keliatannya sangat menyenangkan..nyesel banget aq ga bs hadir..sibuk ngejar setoran dapur….maybe lain waktu klo ada storyboard dari YME….salut pak Hanny….!!!

  9. Wa.. benar2 mengagumkan.. kapan lagi pak? Insya Allah mau datang.. Sayang kemaren nggak sempat datang.. sebab ada event di tempat lain ;)

  10. thx pak hanny…
    saya menyesal tdk datang.
    maybe next event.

    luv u pak wedha…
    haha

  11. congratulation & success han !!!

  12. wow… dahsyaat… nah itu tuh poster yg tekniknya batik.. yg di foto no. 2 sebelah kiri…

  13. Thanks berat pak Hanny udah sharing infonya. Ngomong-ngomong apa DGI chapter Makassar udah ada? kalo belum tolong dong pak Hanny sosialisasi ke Makassar. Kami anak-anak DG Makassar haus akan informasi dan aktualisasi diri. He he he See U…

  14. wah thanks bgt for infonya…
    acaranya bagus bgt

  15. Selamat ya pak Wedha….
    sayang saya nggak bisa datang..tapi setidaknya dari forum ini saya bisa tahu wajah bapak.
    Makasih atas inspirasinya pak..

  16. waduuhhhh… pak Hanny maaf sekali belum bisa ikut nimbrung, Mas Arif (petak umpet) juga maaf belum bisa nimbrung… Berikutnya (harus) ikut serta untuk ‘ngombyongi’… acara keren dan LUPUSSSS… pak Wedhaaa…… aku kangen…
    Maaf sekali lg, saya masih menyibukkan dg Regard Indonesia… biro kreatif yg kami dirikan, agar sedikit bisa sehat dan panjang nafasss…

    Makasih infonya Pak Hanny…
    Salam Pariwara

  17. terima kasih teman-teman, mudah-mudahan bisa datang pada acara lain yang akan diadakan oleh dgi dan mdgi. kepada taufiq hd, mungkin taufiq agak bingung ya membedakan dgi/mdgi, adgi dan fdgi. dgi bukan organisasi profesi sebagaimana halnya adgi dan fdgi. kami hanya terdiri dari ‘orang-orang nekad’ (istilah arief adityawan s, salah seorang aktivisnya) yang sedang berusaha mewujudkan mimpi memiliki museum desain grafis indonesia. kami sedang berusaha mensosialisasikan wacana ini melalui acara-acara yang kami gelar untuk menarik dukungan, karena kami yakin ide ini hanya bisa terwujud dengan bantuan semua teman-teman. terima kasih masdoel, theresia, idelz, maydina, laila, tjipto, inggita, taufiq hd, wismajoglo, sukriyadi dan miko. ditunggu peransertanya :-) salam kreatif.

  18. sukses pak hanny sama acaranya DGI semoga semakin marak lagi di thn2 mendatang.
    saya bisa ketemu dgn pak wedha (akhirnya) hehe
    maju trus desain grafis indonesia ya!!!

  19. Pak Hanny, terima kasih tak terhingga untuk supportnya, jangan bosan kalau kami akan sering/terus bertanya…:)

    salam hormat,

    indah dan iwan esjepe

  20. woww… top banget Pak hanny, keren2!! bikin saya semangat trus ama DG, thx buat acaranya, maju trus DGI!

    saya tunggu event2 slanjutnya ya..

    GBu!

  21. event2 selanjutnya apa ne?!

  22. semakin maju saja design grafis indonesia berkat om Hanny. Merdeka!

  23. terima kasih bimo, franz, tege dan afrar. ikuti saja terus berita-berita di dgi untuk mengetahui acara-acara offline dgi berikutnya. untuk mas iwan esjepe, mari terus bergandeng erat demi indonesia. maju terus “indonesia bertindak”!

  24. NGU!!!!!!!jaya selalu dunia grafis indonesia….!!!!

  25. Wah, acara yang menarik dan merangsang otak kiri..
    pengen dtng tapi lagi di luar pulau jawa..
    buat pak hanny terima kasih infonya, kalo bisa roadshow ke kota2 besar selain di jakarta..
    sukses dan maju untuk dunia desain grafis INDONESIA
    buat pak hanny terima kasih atas infonya..
    mantap…….

  26. makasih souvenirnya menarik jg kok pinnya apalagi lain lainnya

Add Your Comments

© DGI-Indonesia.com | Powered by Wordpress | DGI Logo, DGI's Elements & IGDA Logo by Henricus Kusbiantoro | Web's Framing by Danu Widhyatmoko | Developed by Bloggingly

Warning: Unknown: open(/home/83740/data/tmp/sess_f861ed350dba38f873b6750993c8b5a0, O_RDWR) failed: Permission denied (13) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/home/83740/data/tmp) in Unknown on line 0