Desain Grafis Indonesia

Desain Grafis Indonesia

Fostering understanding among Indonesian graphic designers and its juncture in art, design, culture and society

Lucian Bernhard: Proto-Modernis dalam Sejarah Perkembangan Gaya Visual Desain Grafis Dunia

Oleh: Triyadi Guntur Wiratmo

Makalah Seminar Pameran Retrospektif Lucian Bernhard kerjasama Goethe Institut dan Galeri Soemardja ITB, 10-5-2007

“Style is the signal of civilization. Historians can date any artifact by its style, be it Egyptian, Grecian, Gothic, Renaissance, Colonial, American or Art Nouveau. It is impossible for man to produce objects without reflecting the society of which he is a part and the moment in history when the product concept developed in his mind….. In this sense everything produced by man has style.”

Sir Micha Black,
The Tiffany/ Wharton Lectures, 1975

lucian-bernhard-1

Prolog

Sebuah poster dengan latar belakang warna merah marun pekat, dengan headline ”Priester Holzer” berwarna abu-abu dan dua buah batang korek api dengan warna yang menyolok, merah dan kuning menghiasi jalanan kota Berlin di tahun 1903. Sebuah pendekatan visual yang berbeda dengan poster-poster sebelumnya. Warna-warna menyolok dan datar, penyajian informasi yang to the point menyuarakan kebaruan dan menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan sejarah Desain Grafis di kemudian hari.

Poster Korek api Priester adalah sebuah dokumen batas bermulanya desain grafis modern. Sebuah komposisi yang penuh dan warna-warna menyolok dengan cepat mengarahkan pemirsa untuk segera melihat dan membacanya. Sebelum tahun 1903, ketika poster-poster muncul menjadi bagian penting di jalanan kota Berlin, pendekatan persuasi yang bersifat langsung dan sederhana adalah sesuatu yang sangat jarang ditemukan dalam media periklanan seperti poster. Kecenderungan umum saat itu adalah sangat banyak tulisan dan banyaknya ornamen yang turut hadir menghiasi sebuah poster.

Adalah Lucian Bernhard sosok di balik munculnya gaya visual yang menegasi kecenderungan umum gaya visual pada poster saat itu. Sebuah poster yang mempengaruhi genre baru dalam periklanan (media poster khususnya) dikenal sebagai Sachplakat, atau poster objek. Mengikuti jejak karirnya, yang dimulai pada awal abad ini hingga tahun 1950 an, Lucian Bernhard adalah salah satu desainer yang sangat subur dalam berkarya. Karyanya tidak hanya berhenti pada poster-posternya yang inovatif, tetapi juga dalam bentuk trademark, kemasan, desain huruf, tekstil, furniture, sampai desain interior. Setelah hijrah ke New York- Amerika pada tahun 1922, dia mendesain untuk beberapa merek terkenal seperti; Cat’s Paw, ExLax, dan Amoco. Bernhard juga menghasilkan lebih dari tigapuluh lima jenis desain typeface, termasuk Bernhard Gothic yang sangat populer.

Dari Victorian Sampai Jugendstil: Sebuah Dialektika Sejarah

Dalam sejarah panjang perkembangan desain grafis, salah satu penanda penting adalah kecenderungan gaya visual sebagai bentuk ekspresi ataupun dalam eksekusi. Seorang desainer grafis selalu bergumul dengan bagaimana mengorganisasikan dan mengomunikasikan pesan, agar secara efektif diterima oleh audiennya.

Jika kita amati lebih lanjut, sejarah perkembangan gaya visual (di Barat) terjadi akibat proses dialektik antara gaya visual tertentu dengan gaya visual lainnya. Proses dialog yang dialektik memungkinkan terjadinya sebuah benturan sekaligus pertemuan. Atau sebuah pertemuan yang saling menegasi satu dengan lainnya yang menghasilkan benturan. Saling ’tempuk junjung’ tersebut dalam pemikiran Hegellian selalu menghadirkan sebuah tafsir baru yang mampu mengatasi tafsir yang berbenturan sebelumnya. Sebuah momen benturan antara ’tesa’ dan ’antitesa’ menjadi sebuah momen ’silaturahmi’ berupa ‘sintesa’.

Merunut jejak Lucian Bernhard dalam konstelasi sejarah perkembangan gaya visual desain grafis (graphic style) dapat kita cermati dari era Victorian. Kecenderungan utama gaya visualnya identik dengan ornamen yang eklektik dan ‘euphoria’ terhadap mesin cetak. Gaya visual ini mulai berkembang pada tahun 1820-an. Nama gaya visualnya dipinjam dari seorang ratu Inggris bernama Victoria, yang di tengah pemerintahannya terjadi revolusi industri pemicu dari munculnya gaya visual tersebut. Selanjutnya revolusi industri mempengaruhi masyarakat Eropa, dengan terjadinya pergeseran nilai-nilai kehidupan; pekerjaan yang dilakukan manusia banyak digantikan dengan mesin. Hal ini memicu ‘progres’ yang pesat dalam dunia teknologi tetapi juga berdampak ‘regres’ bagi kehidupan sosial. Tercatat dalam sejarah, meningkatnya angka kriminalitas yang tinggi, arus urbanisasi membludak, dan munculnya golongan baru “nouveau riche” yang hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri.

Kekayaan dan kesenangan menjadi tujuan utama semua golongan, termasuk kalangan senimannya. Dari titik inilah muncul penggalian kembali gaya visual yang pernah jaya di masa lampau untuk diadopsi kembali. Gaya Gothik adalah salah satu gaya yang banyak diangkat kembali dalam gaya Victorian ini. Masih banyak elemen kebudayaan lain yang ikut menjadi tempelan karya-karya desain saat itu. Banyak terjadi ketidak efektifan dalam desain gaya Victorian. Dalam dunia periklanan banyak desain yang gambar-gambarnya hanya ’mascara’ dan sebuah pendekatan tipografi yang seadanya. Sebagai contoh dalam aplikasi tipografi, jika seorang penyeting huruf tidak memiliki lowercase ’g’, ia tak akan ambil pusing dengan menggantikannya dengan huruf ’b’ yang dicetak terbalik. Hal ini menimbulkan banyak kritik bagi beberapa orang yang menganggap cara seperti itu melanggar ’kode etik’ desain yang ada.

Gaya Victorian adalah sebuah ’tesa’, awal dari pergulatan dialektika sejarah. Selanjutnya gaya tersebut ditentang oleh gerakan gaya visual baru, sebuah gerakan yang dimotori oleh John Ruskin dan William Morris. Arts and Crafts Movement adalah ’antitesa’ dari gaya Victorian, secara filosofis Morris menekankan bahwa craftsmen-artists-designers mempunyai tanggung jawab terhadap kualitas produk yang mereka hasilkan. Diawali pada sebuah pameran kolosal produk–produk hasil manufaktur industri di Crystal Palace, Inggris tahun 1851. Produk-produk yang dipamerkan dianggap kurang estetis dan berselera, karena mengesampingkan peran seniman atau desainer dalam proses produksinya. Hal-hal yang dulu termarjinalkan dalam era Victorian coba untuk direvitalisasi kembali. Termasuk posisi perajin (craftsmen) yang ’terlupakan’ dalam industrialisasi yang cenderung mekanistis. Walaupun secara umum gaya visual yang muncul masih menekankan pada pentingnya ornamen dalam sebuah karya desain, tetapi gerakan ini mencoba mengembalikan ’kualitas kemanusiaan’ yang mereka anggap hilang di era Victorian. Gerakan ini mengalami kebuntuan dalam perkembangannya karena tidak sesuai dengan semangat percepatan zaman (industrialisasi).

Dari kedua gerakan gaya visual tersebut, muncullah sebuah gaya visual yang menjadi ’sintesanya’. Sebuah gerakan bertajuk seni baru atau ’Art Nouveau’ mampu memadukan semangat industrialisasi dengan tidak meninggalkan kualitas kemanusiaannya. Gerakan ini lahir di Inggris tahun 1880, tetapi namanya sendiri terinspirasi pada sebuah toko di Paris-Perancis, Maison de L’Art Nouveau. Art Nouveau kritis terhadap gaya Victorian yang ’mubazir’ sekaligus kritis terhadap ’ketidak realistisan’ dari gerakan Arts and Crafts. Gaya visual Art Nouveau mencoba menyinergikan kelebihan yang dimiliki dari kedua gaya visual sebelumnya. Penggabungkan antara seni, pemahaman akan fungsi dan praktek adalah ide dasarnya. Walaupun akhirnya gerakan Art Nouveau terpecah menjadi dua faksi. Pertama, golongan yang keblinger pada penggayaan ornamen, mengembangkan tema – tema fantasi,misteri, eksotisme dewi-dewi ataupun tumbuhan. Kelompok ini terjebak kembali pada pemujaan terhadap ornamen seperti halnya gaya Victorian. Faksi kedua, adalah golongan yang masih memegang ide dasar penggabungan antara seni dan teknologi. Mereka mencoba menyederhanakan ornamen floral dalam bentuk-bentuk yang geometris, ataupun bentuk yang lebih ekspresif. Seperti diungkapkan salah satu pengikutnya, Lewis F. Day: ”Whether we like or not, machinery, steam power and electricity….will have something to say about ornament of the future” (Heller & Chwast, Graphic Style, 1988: 41)

Seperti dua gaya visual terdahulu Art Nouveau berkembang dan menyebar di Eropa. Salah satunya adalah Negara Jerman, lahirlah gaya Jugendstil yang artinya “gaya muda”. Lucian Bernhard dibesarkan bersamaan waktu dengan booming-nya gaya Jugendstil. Saat remaja, Bernhard berkunjung ke kota Munich, untuk melihat sebuah pameran akbar European Art Nouveau Applied Arts. Beberapa seniman poster terdepan saat itu seperti Jules Cheret, Henri de Toulouse-Lautrec, dan Alphonse Mucha turut memamerkan karya-karya poster kabaret dan teater. Dan juga poster-poster iklan yang dibuat oleh The Beggarstaffs, James Pryde dan William Nicolson. Dikemudian hari pameran tersebut sangat berpengaruh pada Bernhard muda dalam desain poster-posternya. Mengenai pameran tersebut Bernhard berkomentar, ”walking drunk with color”.

Sachplakat Sebagai Proto Modern

Kegandrungan Lucian Bernhard terhadap gaya visual yang bercirikan gaya modern, muncul setelah dia mengunjungi pameran akbar Art Nouveau tersebut. Jejak-jejaknya muncul ketika pada suatu hari kedua orang tuanya pergi keluar kota, Bernhard muda membolos dari sekolahnya untuk mengecat ulang rumahnya dan furniture yang bergaya Wilhelmian, dengan warna-warna modern. Selanjutnya, seperti dituturkan Steven Heller pada salah satu tulisannya pada jurnal AIGA tahun 1998, atas kejadian tersebut Lucian Bernhard diusir dari rumah oleh ayahnya.

Walaupun Munich adalah pusat dari seniman-seniman grafis yang radikal, Bernhard memutuskan untuk pergi ke Berlin. Saat itu Berlin adalah tempat berkembangnya Industri dan seni komersial. Kompetisi poster secara rutin diadakan di sana, dengan sponsor perusahaan-perusahaan yang mapan di Berlin. Kompetisi ini dimaksudkan untuk mencari bakat-bakat baru di bidang industri periklanan. Salah satunya sebuah kompetisi yang disponsori oleh Priester Match Company (th. 1903), dengan penghargaan 200 marks untuk pemenangnya. Bernhard memutuskan untuk mengikuti kompetisi tersebut, dan dengan hanya memerlukan sedikit waktu, dia membuat sebuah desain poster yang pada akhirnya merubah hidupnya dan sejarah perkembangan desain grafis dunia.

Pada awalnya poster yang akan dia kirimkan di dalamnya terdiri dari banyak objek visual. Dengan latar belakang merah marun yang cenderung pekat (mendekati warna hitam), adalah warna yang jarang dipakai saat itu (biasanya warna hitam atau warna cerah). Objek visualnya bahkan dapat dibilang terlalu ’ramai’, terdiri dari; asbak dan sepasang korek api, kemudian menambahkan sebuah rokok untuk menyeimbangkan komposisi dari elemen-elemen yang ada. Dan dari rokok dia gambarkan asap mengepul yang berubah menjadi sesosok wanita sedang menari bergaya Jugendstil. Di bagian atas poster dituliskan teks ” Priester”.

Setelah dipikirkan kemudian, Bernhard menyadari kesalahannya dan menghilangkan beberapa elemen visual yang tidak perlu. Akhirnya dia hanya menyisakan dua batang korek api dengan nama produknya saja. Sebuah keputusan yang sangat berani! Karena gaya visual maupun cara penyampaian pesan terlalu minimalis untuk saat itu. Para juri pun merasa demikian, mereka menerima poster Bernhard sebagai karya yang aneh. Poster tersebut dianggap tidak layak untuk seleksi selanjutnya. Adalah Ernst Growald seorang Manajer Pemasaran sebuah agensi periklanan yang menjadi penentu akhir. Dia adalah salah satu juri yang paling berpengaruh dan memutuskan karya Bernhard sebagai pemenangnya. Dia mengambil poster Bernhard dari kotak karya yang dianggap tak layak dan mengangkatnya, ”This is my first prize. This is genius!” (Heller, jurnal AIGA, 1998 )

Poster “Priester” adalah titik tolak berkembangnya sebuah gaya visual baru yang disebut ‘Sachplakat’. Sebuah gaya visual yang seakan tercerabut dari gaya-gaya visual sebelumnya. Dengan gaya visual yang khas minimalis , warna-warna primer datar dan visualisasi huruf-hurufnya yang tebal, kaku, penuh kekuatan seakan mencerminkan ciri khas negara Jerman. Jejak ornamen yang muncul pada gaya Victorian maupun Art Nouveau ter-reduksi habis! Sachplakat adalah bentuk “Antitesa” dari gaya visual sebelumnya.

Art Nouveau yang sebelumnya adalah “sintesa” dari Victorian dan Arts and Crafts Movement, kembali menjadi titik awal “tesa” untuk di “antitesa” oleh Sachplakat. Perubahan mendasar dari antitesa tersebut adalah membelokkan tendensi dekoratif ornamentik dengan fokus pada satu citraan produk dan huruf yang bold, minimalis. Dari tendensi gaya visual tersebut Lucian Bernhard dengan Sachplakat-nya dapat diposisikan sebagai bibit-bibit yang memulai gaya visual modern…….. sebuah Proto-Modern. “The Sachplakat monumentalized the mundane – a typewriter, shoes, matches – and this sense was the proto-manifestation of pop art in twentieth century…………………”
( Heller, Desain Literacy, 1999: 56)

Epilog
Kecenderungan minimalis pada gaya visual modern jejaknya dapat kita lihat jelas pada poster-poster Lucian Bernhard. Kredo Form Follow Function yang sangat lekat pada modernisme, telah terwakili sejak Bernhard mereduksi karyanya, dengan hanya menyisakan dua batang korek api dan nama produknya. Less is More, sebuah pola pikir reduktif (yang tidak berkepentingan atau berfungsi harap minggir!) adalah tipikal Modern. Modernisme yang dikemudian hari dalam bidang desain ditandai dengan munculnya dua raksasa yaitu Bauhaus (1914) dan Swiss International Style (1958 ) tidak pernah lepas dari pengaruh sebuah poster minimalis bertajuk ”Priester–Holzer”.

•••

« Previous Article Next Article »

Add Your Comments

© DGI-Indonesia.com | Powered by Wordpress | DGI Logo, DGI's Elements & IGDA Logo by Henricus Kusbiantoro | Web's Framing by Danu Widhyatmoko | Developed by Bloggingly