Desain Grafis Indonesia

Desain Grafis Indonesia

Fostering understanding among Indonesian graphic designers and its juncture in art, design, culture and society

Kutang*

Sumber foto: Slamet A Sjukur

Oleh: Slamet A. Sjukur

Indonesia negeri orang-orang gila yang bisa hidup mustahil. Lebih dari Perancis yang tidak percaya ada yang tidak mungkin.

Beberapa waktu lalu, yang belum terlalu lama…

Slamet Gundono, yang tubuhnya pendek tapi beratnya 104 kg, membawa ukulele kecil berwarna hijau dan menyanyi seperti burung bulbul. Atau ngomong sendirian dan kadang-kadang sambil diiringi instrumen yang dia bawa itu. Dia seorang dalang dan menceritakan kembali dongeng Andersen, dengan caranya sendiri.

Dia berdiri di depan dekor berwarna merah dengan gaya Tionghoa yang dibuatnya sendiri, di sisi lain di panggung yang sama duduk delapan pemain musik Dutch Chamber Music Ensemble yang dipimpin Ruud van Eeten. Di situ nanti akan muncul juga Sitok Srengenge, pelaku lain dalam dongeng. Dia sendiri seorang penyair.

Mendadak, musik elit dan “hiburan rakyat” sudah tidak bisa dibedakan lagi, tembok tebal yang memisahkannya selama ini, hilang. Ruang pertunjukan dipadati kawula muda, kursi-kursi terpaksa disingkirkan dan bahkan di luar masih di pasang layar tancap raksasa agar dapat ditonton oleh mereka yang tidak mendapat tempat di dalam. Festival Burung Bulbul berkeliling dari Jakarta ke Bandung, Solo, Yogya dan Surabaya.

Burung Bulbul dan Kaisar Tiongkok, dongeng yang ditulis pengarang Denmark Andersen, telah menjadi karya musik beserta dalang, komponisnya Theo Loevendie, Belanda. Ceritanya terjadi di kekaisaran Tiongkok zaman dulu. Cerita tentang seekor burung bulbul, burung betulan, dan burung-robot tiruannya.

Slamet yang raksasa itu bisa berubah menjadi burung bulbul yang mungil. Ajaib! Ada kalanya dia menampakkan diri di depan dekor merah, sebagai actor yang luar biasa, pada saat-saat lainnya dia menghilang di balik dekor untuk menggerakkan wayang-wayang yang dibuat khusus untuk acara ini.

Burung bulbul satunya lagi, sebuah robot kecil, menjadi sumber kegembiraan bagi para spesialis untuk mengadakan seminar-seminar tentang kecermatan dan kehebatan otak manusia. Bagi Sitok Srengenge pelaku burung tiruan ini, semuanya sudah dirancang sebelumnya, semuanya sudah dapat diduga, maka tinggal membaca naskah saja, semuanya beres.

Wah! Tidak begitu!

Mestinya dia hafal naskahnya seperti yang sudah diteladani Malcolm McDowell, seorang actor sejati yang pernah dipercayai memegang peran utama dalam film Kubrik CLOCKWORK ORANGE atau dalam film Gore Vidal CALIGULA. Burung bulbul tiruan yang dihadiahkan kaisar Jepang pada kaisar Tiongkok itu, sekalipun ada kekurangannya, robot tersebut tetap indah penuh dengan batu-batu permata.

Perbedaan antara seorang penyair yang membaca naskah seperti anak sekolah, burung bulbul yang aneh dan luar biasa serta ansambel musik yang tidak sekadar betul intonasinya, tidak menjadi masalah bagi penonton. Mereka semua gembira. Orang-orang Indonesia mudah terpukau oleh keindahan dan tidak terlalu tertarik untuk bersikap kritis.

Sebelum The Nightingale (Burung Bulbul) karya Theo Loevendie, disuguhkan dulu musik komponis Belanda lainnya, Roderik de Man, The Surprising Adventures of the Baron Munchausen, berdasarkan peristiwa nyata yang tidak masuk akal. Sebuah catatan perjalanan Friedich di Rusia. Dia hidup antara 1720-1797.  Suatu pengalaman yang demikian mencengangkan, sampai akhirnya hanya dianggap sebagai sekadar bualan yang luar biasa. Ini menyedihkan dan dia mati dengan sakit hati. Dari buku yang ditulis oleh Rudolf Eric Raspe, diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Godfried, diolah kembali oleh komponis serta dibaca oleh Sitok Srengenge.

Sebagai ilustrasi musiknya, maka ditayangkan juga di layar lebar di samping panggung, goresan-goresan disain yang sangat bagus Gustav Doré. Semua ini mengingatkan pertunjukan ‘all stars’. Kita hidup di jaman multimedia.

Begitu rumitnya! Kita dimanjakan oleh teknologi. Hanya saja pertanyaannya apakah ini bukan kemajuan yang berjalan mundur? Kemampuan kita berkhayal, secara halus dibunuh oleh kemudahan. Tentunya ada cara lain memanfaatkan video dengan sikap yang jauh lebih kreatif.

Dari segi musik, kedua karya The Nightingale dan The Baron sama kuatnya dengan L’Histoire du Soldat – Strawinsky yang keterbatasan instrumentasinya dijadikan acuan untuk festival ini. Bahkan bisa menimbulkan kesan sepertinya ketiga karya itu dibuat pada tahun yang sama. Padahal kerjasama Strawinsky-Ramus, terjadi hampir seratus tahun yang lalu. Itu artinya, kedua komponis tersebut berbeda dari umumnya para komponis muda yang mudah hanyut oleh hal-hal yang baru. Loevendie dan Man sudah menemukan jati dirinya dan tahu betul bahwa mereka tidak perlu menjadi Ligeti, Xenakis atau lainnya.

Mundur lebih jauh, sebelum Le Baron ada karya lain yang pendek dan tanpa cerita maupun gambar. Itu musik saya yang berjudul KUTANG. Panjangnya hanya 8 menit bukannya 30 atau 53 menit seperti Baron atau Rossignol. Keuangan Belanda tidak dapat membayar komponis Indonesia dengan derajat yang sama dengan yang dari negeri mereka. Karena itu durasi karyanyapun dibatasi. Itu wajar.

Judul karya saya tidak berurusan dengan musiknya maupun dengan yang dijelaskan dalam dua bahasa di buku acara: Do you remember Hamlet? Ophelia loses her mind when her father, Polonius,  was killed by Shakespeare for the sake of Drama. Sedang dalam bahasa Indonesianya: Kutang tidak punya urusan dengan Ophelia yang menjadi gila karena Hamlet, kekasihnya, membunuh ayahnya, Polonius, tanpa sengaja.

Judul tersebut agak berbau erotik, seperti halnya judul karya saya sebelumnya, PAHA, untuk kuintet instrumen tiup logam. Itu reaksi saya terhadap proyek DPR membuat undang-undang bodoh anti-pornografi. Dapatkah mereka menemukan sesuatu yang jorok dalam musik saya?

Sesungguhnya, musik itu apa?

Terus terang saja, saya sendiri tidak tahu. Suatu teater energi yang berbicara tentang dirinya sendiri, seperti Kunst der Fuge – Bach, sonata-sonata Mozart atau karya Brian Ferneyhough yang mana saja. Orang dapat saja membumbuinya dengan yang tidak-tidak seperti PETER DAN SERIGALA atau KATEDRAL YANG TERBENAM dan sebagainya.

Anehnya, saya terpaksa harus menjelaskan pada mereka yang memainkan musik saya dengan petunjuk seperti berikut: Peaceful – Mechanical – Dreamy – Chuang Tzu, The Wise Nonsense – Deep Breath. Partitur musik sering tidak berbicara apa-apa bagi yang professional sekalipun. Tidak semua pemusik pasti memahami musik. Ini lucu!

Dunia ini memang penuh dengan yang tidak karuan. The Nightingale Festival yang diselenggarakan oleh Belanda untuk menyenangkan Indonesia, main-mainnya agak keterlaluan. Kita juga pernah sangat bahagia dan cukup naif, ketika IMF berlagak membantu kita mengatasi kesulitan ekonomi. Yang paling mengharukan dari cerita-cerita beginian ialah tentang WHO; tahu bahwa Indonesia menderita karena flu burung, mereka minta dikirimi (gratis) virusnya, bukan untuk menyembuhkan kita, tapi untuk suatu penelitian yang hasilnya sebentar lagi… akan dijual pada kita!

Informasinya dibuat sedemikian rupa sampai kita yang merasa keliru. Untung, Indonesia dihuni oleh orang-orang gila. Kita hidup dalam dunia surealis.

*Terjemahan dari Le Soutien-Gorge. Dimuat majalah Perancis Le Banian, edisi Juni 2008 (diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh penulisnya sendiri: Slamet A. Sjukur)

•••

« Previous Article Next Article »

Add Your Comments

© DGI-Indonesia.com | Powered by Wordpress | DGI Logo, DGI's Elements & IGDA Logo by Henricus Kusbiantoro | Web's Framing by Danu Widhyatmoko | Developed by Bloggingly