Desain Grafis Indonesia

Desain Grafis Indonesia

Fostering understanding among Indonesian graphic designers and its juncture in art, design, culture and society

KAMPUNGAN – Kumpulan Cergam Apik Buatan Anak Kampung Kita

Oleh: Arief Adityawan S

Minggu 14 Februari, terjadi keramaian di sebuah ruang tua yang konon pernah menjadi ruang perawatan Rumah Sakit di jaman Belanda. Ruang yang kini jadi bagian dari Galeri Nasional itu jadi saksi peluncuran Kumpulan Cergam “Kampungan”. Sesuai dengan tema edisi perdana ini – Romansa, maka isinya pun seputar kisah cinta dua manusia. Karena itu pula peluncurannya dilakukan tepat pada hari Valentine. Jagoan kawakan pencipta Panji Tengkorak, Hans Jaladara pun ikut hadir dalam sesi diskusi bersama Beng Rahadian dan Iwan Gunawan. Selain diskusi juga berlangsung workshop membuat cergam bersama Aji Prasetyo, serta pemutaran film dokumenter “Tjergam Indonesia” karya Kliwon Production.

Sampul muka Kumpulan Cergam “Kampungan”, edisi Romansa.

Dilihat dari bentuknya – Kumpulan Cergam – ingatan kita akan melayang pada sebuah kumpulan cergam lain, Sequen dengan Iwan Gunawan sebagai nakhoda. Sequen memang dibuat dengan format yang lebih ‘wah’ dengan full-colour dan tag-line yang lebih serius: “Rujukan Seni Cergam”. Sangat disayangkan Sequen hanya sempat terbit 4 nomor saja – padahal kemunculannya menjadi angin segar dalam dunia cergam kita. Kemunculan “Kampungan” nampaknya ingin mencoba pendekatan berbeda dari Sequen yang tampil serius, “Kampungan” ingin tampil lebih kampungan – lebih santai dan ‘nyeleneh‘. Kumpulan Cergam Kampungan, secara sadar menggunakan nama “Kumpulan Cergam”, bukan komik. Hal ini jadi sebuah pilihan para aktivis komik untuk membangun identitas khas Indonesia: bila Jepang ada Manga, maka Indonesia ada Cergam – Cerita Gambar, nama lain untuk komik – demikian ungkap Beng Rahadian pendiri Akademi Samali dan ‘orang dalam’ Kampungan. Tentu saja ini merupakan sebuah upaya yang patut dihargai, walau nampaknya sulit untuk menandingi istilah yang kadung akrab dan enak di telinga: “Komik”.

Sampul muka Majalah Sequen nomor 4.

Dalam edisi perdana dari Kampungan terdapat enam judul cergam hitam-putih yang masing-masing terdiri dari 18 halaman tamat. Cergam pertama “Melati Revolusi” karya Arif Yuntoro dan Pamudji MS. Karya ini memiliki garis-garis yang kuat. Cergam ini adalah sebuah kisah cinta dua bersaudara – Witoelar dan Roekmanto – dengan seorang gadis cantik bernama Roekmini. Setting yang digunakan adalah Surabaya di jaman kemerdekaan, ketika pasukan Sekutu mendarat menjelang November 1945. Secara keseluruhan ceritanya menarik, namun ditengah cerita terasa menggantung, saat Roekmanto mengajak Roekmini pelesir ke pantai, sehingga menimbulkan pertengkaran di antara kedua bersaudara.

“Melati Revolusi”, karya Ari Yuntoro dan Pamuji MS.

Cergam kedua berjudul “Dago”, karya Aprilia Sari dan Beng Rahadian memiliki keunikan tersendiri karena tampil minim-kata. Beng dan Sari berusaha mengoptimalkan kekuatan bahasa gambar, ditambah gaya cergam yang mengingatkan kita pada karya Jan Mintaraga di tahun 70an. Pendekatan ala Jan Mintaraga ini nampaknya memang sejalan dengan profesi lain dari Sari sebagai vokalis grup musik White Shoes and the couples company yang selalu tampil 70an. Sayangnya teknik yang bernuansa kelabu ini, memberi kesan kotor dan blur. Mungkin bila ditampilkan dalam cetakan full-colour walau bernuansa monokromatik, akan dapat tampil lebih menarik.

“Dago”, karya Aprilia Sari dan Beng Rahadian.

Aji Prasetyo, komikus (atau cergamis?) asal kota Malang, membuat cergam ketiga, “Kidung Malam”. Cergam ini dibuka dengan adegan peperangan di tarikh 18 April 1828 di pulau Jawa, saat Diponegoro dan pasukannya bertempur melawan pasukan Belanda. Karya Aji ini tergolong sangat apik, baik dari teknik penggambaran, penyusunan sequen cerita hingga perpindahan antar-panel (frame). Demikian juga rincian cerita, seperti nama-nama pasukan dan kidung-kidung yang nampak memiliki latar sejarah yang riil. Menurut hemat kami, “Kidung Malam” merupakan sebuah contoh bagaimana cergam berlatar sejarah dapat menjadi sangat indah dan penuh penghayatan. Kita dapat membayangkan bagaimana seandainya buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah dasar dilengkapi dengan cergam-cergam bermutu sekelas cergam “Kidung Malam” ini.

“Kidung Malam”, karya Aji Prasetyo.

Halaman lain yang menggugah dari cergam “Kidung Malam”.

“Antara aku sahabatku dan anak mamakku” karya Jon Kobet memiliki keunikan tersendiri. Gaya penggambarannya kocak dan naif, namun terkadang terasa kurang memberi penekanan pada obyek utama dari gambarnya. Pada beberapa panel terasa mengandung teks yang terlalu padat. Namun setelah dibaca hingga ke tengah cerita, maka cergam ini terasa memikat. Kandungan budaya Melayu memberi nuansa tersendiri bagi kumpulan Cergam edisi Romansa ini. Perlu lebih banyak lagi cergam-cergam Indonesia menjelajah dan mengangkat budaya-budaya lokal di Nusantara – sebagaimana di lakukan Jon Kobet.

Karya kelima adalah “Resonansi Hati” oleh Papillon Studio, dengan nama-nama Helmi Ismail (cerita), Kusbi Antoro (Gambar) dan Rahmi Aziza (teks). Adapun cergam terakhir, tentunya dengan sengaja diletakkan karya komikus yang mumpuni, Hans Jaladara, si pencipta komik Panji Tengkorak. Masih tampil prima dengan kekuatan gambarnya, hanya saja formula klasik adegan laga dalam komik silat tidak terpenuhi, sehingga cerita menjadi terasa terlalu lembut dan linear. Di tengah-tengah buku, disisipkan artikel sepanjang dua halaman karya Ifan Adriansyah Ismail mengenai pengaruh komik Eropa bagi perkembangan cergam atau komik Indonesia. Walaupun tulisannya sangat menarik dan ‘padat-gizi’ namun rasanya terlampau singkat. Penambahan satu halaman lagi untuk rubrik artikel dapat tingkatkan gizi tanpa perlu khawatir membosankan. Secara keseluruhan “Kampungan” adalah sebuah kumpulan cergam terbitan Gajah Jambon, yang diracik menarik oleh para penyelia, Beng Rahadian dan Lilia Nursita. Di bagian akhir ditampilkan sampul muka dua edisi mendatang dengan tema “Syereem” dan “Hidangan Spesial”.

Hans Jaladara

Sebagai sebuah terbitan berkala nampaknya perlu lebih mematangkan lagi konsep desain sampul muka, agar brand “Kampungan” lebih menonjol dibanding judul tema “Romansa”. Juga perlu ditimbang agar peletakan huruf dari tema (Romansa) dipisahjauhkan dari huruf “Kampungan”. Ini bisa memudahkan calon pembeli untuk membaca, mengingat, dan menyebut nama “Cergam Kampungan” – bukannya “Romansa”. Demikian juga dengan bentuk logotype “Kampungan” yang terasa kurang sejiwa dengan semangat ‘norak‘ dan ‘nge-pop‘ yang diusung seni jalanan. Singkatnya, brand “Cergam Kampungan” perlu tampil lebih menonjol, kuat, bahkan kalau perlu berteriak lantang sehingga pembeli mau meraih Kumpulan Cergam Kampungan dari rak di toko buku. Jangan dilupakan pula pentingnya promosi yang agresif melalui berbagai jejaring sosial di internet yang low-budget, serta langsung menembus ruang-ruang privat para calon pembeli potensial. Satu langkah menyegarkan untuk dunia cergam Indonesia sudah dilakukan. Bila kita melihat karya-karya cergam bermutu yang berhasil diseleksi oleh redaksi “Kampungan” maka kita dapat optimis bahwa dunia cergam di Indonesia akan segera memasuki jaman keemasannya. Selamat dan sukses untuk Kumpulan Cergam “Kampungan”, dan hidup cergam Indonesia!

Arief Adityawan S
Penikmat komik (eh, Cergam)

•••

« Previous Article Next Article »

COMMENTS

  1. nice! :)

  2. show must go on !
    good luck guys !

  3. [...] [2] Untuk informasi lebih lanjut mengenai “Kampungan” bisa klik disini. [...]

Add Your Comments

Anda harus REGISTRASI / LOG IN untuk dapat memberikan komentar.

© DGI-Indonesia.com | Powered by Wordpress | DGI Logo, DGI's Elements & IGDA Logo by Henricus Kusbiantoro | Web's Framing by Danu Widhyatmoko | Developed by Bloggingly