Desain Grafis Indonesia

Desain Grafis Indonesia

Fostering understanding among Indonesian graphic designers and its juncture in art, design, culture and society

Etika Profesi Desain Grafis – Tantangan pada Masa Depan

Oleh Yongky Safanayong

Fakta

01.

Eksistensi profesi desain grafis secara kuantitas menunjukkan angka pertumbuhan yang sangat luar biasa dalam dua dekade belakangan ini di Indonesia, khususnya di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya, sejak 1990 naik lebih dari 1100 %, sejak 1995 naik lebih dari 500%. Pertumbuhan peminatan profesi desain grafis ini seiring dengan tumbuhnya industri pendidikan yang membuka program studi desain grafis (desain komunikasi visual) dari level D2 sampai S1.

Pada sisi lain, secara kualitas menunjukkan kemerosotan penghargaan dan apresiasi dari industri praktis dan pemakai jasa, selain itu juga kemerosotan kualitas kompetensi dari desainer.

02.
Cepatnya perkembangan media dan teknologi baru pendukung pekerjaan desain grafis sejak awal 1990-an sampai kini memberi dampak yang signifikan terutama kepada sikap manusia – insan desain grafis, pelaku bisnis dan pelaku industrial. Kecepatan dan akurasi desain memang jelas meningkat, namun kualitas apresiasi dan desain menurun.

03.
Krisis ekonomi 1997 – 1998 dan akhir 2008 adalah momentum baik untuk menyusun strategi dan taktik baru guna mengatasi tuntutan-tuntutan baru yang lebih besar dan banyak, namun belum dilakukan secara optimal dan sinergi oleh pihak terkait : industri pendidikan – industri praktis, industri pendukung – pemerintah – asosiasi profesi.

04.
Krisis multidimensi didalam masyarakat khususnya krisis sosial – budaya dan etika.

Tantangan

Dari fakta-fakta diatas, dibutuhkan strategi dan taktik berupa etika baru melalui perspektif, visi dan spirit baru.

Etika baru tersebut sebagai tantangan pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang.

  • Etika
    Berkaitan dengan baik dan buruk, benar dan salah. Berkaitan pula dengan adat dan kebiasaan (kebudayaan).
  • Profesi
    Bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu dalam desain grafis.
    Pilihan profesinya :

    • sebagai desainer
    • sebagai pengajar + entrepreneur
    • sebagai desainer + artis
    • sebagai pengamat / kritikus
    • sebagai desainer + entrepreneur/industrialis
    • sebagai peneliti
    • sebagai pemerhati yang berkaitan dengan seni budaya atau lingkungan hidup
    • sebagai entrepreneur
    • sebagai pengajar
  • Integrasi etika profesi
    Bahwa seorang ahli seperti profesi yang tersebut diatas perlu memiliki kompetensi, kejujuran dan komitmen yang mencakup :

(klik pada gambar untuk memperbesar)

Kini, etika dalam profesi erat kaitannya dengan perspektif baru dalam komunikasi & kebudayaan. Tantangannya :

  1. Bahwa kebudayaan adalah karya manusia yang mampu mengembangkan kemampuan, bakat sampai menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang bernilai.
  2. Melalui kebudayaan, manusia mampu menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik : lebih aman, lebih nyaman, lebih indah, lebih mudah, lebih seimbang, serasi dan selaras.
  3. Bahwa kebudayaan sebagai forma spiritual dari suatu masyarakat, karena kebudayaan sebagai struktur dasariah manusia, ia mampu memberi ciri khas dalam adat kebiasaan, bahasa, teknik serta tata nilai.
  4. Bahwa seorang ahli dalam profesi juga sebagai komunikator. Untuk menjadi komunikator yang efektif masa kini, perlu memenuhi tantangan komunikasi interkultur. (Komunikasi interkultur adalah komunikasi antar manusia dengan persepsi kultural dan sistem simbol).
  5. Tampilnya teknologi baru dan lebih baik, pertumbuhan penduduk dunia dan pergeseran area ekonomi global telah mendukung pertumbuhan internasional. Setiap orang diseluruh dunia akan terpengaruh oleh pertumbuhan ini dan perlu komunikasi tentang sumber daya alam yang terbatas dan semakin rusaknya lingkungan hidup dan perlu pula peran serta kita semua untuk membantu mengurangi dan menghindari.
  6. Bahwa komunikasi mampu menyelesaikan banyak kebutuhan interpersonal, membantu menentukan identitas personal dan mempengaruhi manusia.
  7. Secara global, bahwa komunikasi kontekstual dengan politik, teknik, kultural dan ekonomi. Sedangkan kebudayaan kontekstual dengan keyakinan » Nilai» Sikap » Perilaku.
  8. Bahwa banyak pembenaran-pembenaran di dunia pendidikan yang sebenarnya tidak selalu atau mutlak benar dalam dunia praktis.
  9. Berpikir dan bersikap positif dan konstruktif kepada:
  • Tuhan Yang Maha Esa
  • Diri sendiri
  • Rekan kerja / orang lain
  • Profesi
  • Organisasi / institusi
  • Sumber daya : waktu, air


Penutup

Bahwa etika profesi desain grafis pada masa depan tidak cukup memiliki kecerdasan intelektual, tapi juga wajib memiliki kearifan spiritual yang senantiasa takut kepada Tuhan – pencipta seisi alam semesta dan memiliki kemampuan komunikasi interkultural. Senantiasa mau belajar dari kesalahan, mau menerima perbedaan pendapat, memiliki inisiatif, cenderung berusaha untuk mencari nilai beda ketimbang harus bersaing atau berkompetisi, serta berpikir terpadu.

Sebagai cognitariat seperti profesi lainnya perlu memiliki etika profesi baru yang selaras dengan tuntutan dan tantangan baru, tantangan yang sebenarnya suatu tanda pertumbuhan bagi kita bersama.

* * *

« Previous Article Next Article »

COMMENTS

  1. “Bahwa banyak pembenaran-pembenaran di dunia pendidikan yang sebenarnya tidak selalu atau mutlak benar dalam dunia praktis”,

    Yup !!, (saya sebagai pengajar + Praktisi) menemukan banyak dilema…. di Pendidikan bilangnya “A”, ternyata di industri sebenarnya “B”… solusinya, ya saya bilang ke murid2 saya: “AB”

  2. Inilah kendala terbesar yang saya rasakan dalam dunia praktisi lapangan:
    Ide atau Konsep yang kita punya biasanya selalu kalah oleh Pemakai Jasa, yang terkadang memaksakan kehendaknya dengan mencoba menyisipkan keinginan itu untuk bisa ditambahkan di konsep desainer. (Jelas amburadul, pastinya). Hal ini karena si pemakai jasa mungkin belum memahami “apa sih desain grafis” atau “apa sih konsep desain komunikasi visual”.. Banyak sekali orang yang belum paham dengan profesi desainer grafis, misalnya: “Ooo bisa dong desain kostum saya untuk pertunjukkan” (arrrggh) meskipun sudah dikatakan bahwa saya adalah seorang desainer grafis(Ini kejadian thn 2009).

    Banyaknya ‘desainer instan’ di tengah masyarakat juga semakin membuat apresiasi dan penghargaan masyarakat menurun. Misalnya : orang lebih suka menggunakan jasa digital printing dengan desain murah, cepat, gak pake proses, dan yang paling disukai adalah “selalu nurut” sesuai keinginan tanpa ngeyel (hahahahahaha)
    Ini membuat (jelas) kualitas desain itu sendiri menurun.

    Saya setuju dengan kata “etika” untuk profesi desainer. Sadar atau tidak, jika moral seorang desainer tsb tinggi tentunya tidak akan “mencontek” hasil karya orang lain dan mengakuinya sbg hasil karyanya. Jujur, saya punya pengalaman buruk thd “etika” ini, dan yang lebih menyedihkan, ketika saya diminta merancang sebuah poster u/ sebuah film yang akan ditayangkan, produser film tsb mengatakan: “oh, ternyata di indonesia ini ada ya desainer berkualitas, yang mampu bikin poster tanpa mencontek poster film dari luar…” (Gubraaaak)

    Itulah sekilas kondisi Desain Grafis di negeri ini…
    Masih butuh jalan yang panjang untuk membuat kata “Desain Grafis” bisa berada di makna yang sesungguhnya.
    Artikel ini sangat menarik, bukan saja sebagai motivator untuk kita para insan grafis indonesia agar menjunjung ‘etika’ dalam profesi ini, tapi juga sebagai informasi terhadap masyarakat, bahwa profesi ini bukan profesi murahan dan asal asalan, karena suatu desain tidak akan pernah lahir tanpa suatu konsep yang benar-benar sempurna.

  3. Untuk sementara sedikit pendapat saya, yg sebenarnya sudah pernah ditulis di ruang komen tulisan lain disini juga bahwa:

    - mengacu pada pandangan seni dari Marcia Mueler Eaton (1988), barangkali ‘Desain’ (dengan ‘D’ besar) adalah satu diantara apa yang dia katakan sebagai ‘estetika terapan’. Karena ketika kita bicara soal Desain, kita tidak bicara hanya soal sebuah produk yg dapat di-inderai, tetapi juga menyangkut hal-hal intrinsik yg bersifat estetis sekaligus juga etis.

    - Robert Williams pula dalam Art Theory: A Historical Introduction mengemukakan dua pandangan mengenai desain (designo). Berikut kutipannya:
    “In Idea of Painters, Sculptures & Architects (1607) Federico Zuccaro tries to show how the whole of art, indeed, all arts, are based upon the single principle of designo….developing Vasari’s concept of designo as a mental activity & as the principle that unites the art of painting, sculpture & architecture (1955)…designo is nothing less than the fundamental principle of all thought…designo must be understood as the essential activity of the soul, the process by which the soul realizes itself….it is the ‘idea of all thoughts’, ‘the concept of all concepts, form of all forms.’ It is the one thought contained in all thoughts, the ground of the possibility of thought itself… It is the power of designo that enables us even to describe what is designo.”

    Berpikir adalah mengarahkan pikiran baik secara rasional maupun intuitif kepada sang Khaliq. Akibat kemajuan modernitas dewasa ini, manusia lupa pada ‘adab’ yg berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Itulah desain, desain bukan cuma membuat komposisi indah, bernilai jual, yg dapat mempersuasi publik/audiens utk bertindak konsumtif, tetapi desain adalah berpikir tentang bagaimana menjadi manusia ‘beradab’ yg artinya mendesain segala sesuatu yang tepat pada tempatnya masing-masing secara sesuai.
    Pemahaman semacam ini sudah hangus ditelan komersialisasi produk desain dan kapitalisasi kreatifitas desainer. =)

  4. sedikit tambahan pula mengenai matinya reflektifitas desainer terhadap dunia desain itu sendiri: lewat pandangan Klaus Krippendorf di Semantic Turn: New Foundation for Design:

    “…meaning is always someone’s meaning. Human-centeredness must therefore acknowledge that the meanings of interest to designers are embodied in individuals, who, as members of communities, coordinate their understanding by interacting with one another…”

    “…We must realize that the understanding of someone else’s understanding of something is….an understanding of understanding….This recursive understanding of understanding is a second-order understanding. Inasmuch as human-centered design is fundamentally design for others, it must be grounded in second-order understanding…”

    Desainer bukan saja mampu menghasilkan produk yg berguna bagi klien atau masyarakat (1st order), tetapi juga harus mampu melihat bahwa ia dan stakeolder (klien serta masyarakat pengguna jasa) adalah agen perubahan adalah agen pengetahuan yang mampu melakukan refleksi atas desain (2nd order).
    Adab seorang desainer yg seharusnya terus menerus melakukan refleksi terhadap posisi profesi dirinya terabaikan, dan dengan itu desainer hanya berputar pada lingkaran setan permasalahan hak mendapatkan ‘lahan cari makan’.

  5. Tulisan diatas coba mengungkapkan sebuah tesis fundamental ttg pentingnya ‘komunikasi’ sebagai etika dalam dunia desain. Nah, saya berharap ada teman2 yg berkepakaran di bidang filsafat komunikasi atau sosiologi komunikasi utk memperbincangkan 2 orang pemikir asal Jerman yg berseteru yaitu Jurgen Haberman dgn Teori ‘Communicative Action’ dan Niklas Luhmann dgn Teori ‘Social System’ agar bisa mengembangkan diskursus ‘komunikasi’ dalam desain grafis ini. =)

  6. jurgen habermas (bukan haberman).

  7. setuju… skrg byk para desainer grafis “jadi2an” obral2 biaya desainnya, mentang2 mereka otodidak jd tdk menghargai karyanya, bahkan ada bbrp yg kasih gratis biaya desain… ini jelas menurunkan apresiasi org terhadap hasil karya desain itu sendiri.

  8. memangnya industri pasti lebih ‘benar’?

  9. sedih sekali membaca tulisan bpk. prof. Yongky Saf. di atas tadi, karena tulisan itu akan terus relevan dalam jangka waktu yang sangat panjaaaaaaang untuk iklim di Indonesia khususnya yang tidak pernah berubah. Kalau boleh jujur 30 tahun lagi kita membaca tulisan di atas tadi tetap up to date.

    Persis kaya saya dengar lawakan warkop (almarhum Dono) tahun 1970an yang masih terus relevan “Indonesia export terbesar kok cuma export haji sama export pembantu rumah tangga” . Bayangkan lawakan itu di tahun 2010 ini masih tetap up to date. Artinya tidak ada perubahan selama 40 tahun.

    Sulitnya merubah pandangan desainer grafis (di Indonesia khususnya) karena hampir sebagian besar tujuan utamanya adalah untuk memperkaya diri sendiri bukan untuk menciptakan “lingkungan hidup yang lebih baik : lebih aman, lebih nyaman, lebih indah, lebih mudah, lebih seimbang, serasi dan selaras” seperti yang diutarakan bpk. prof. Yongky Saf.

  10. Benar kata Pak Irwan Harnoko bahwa kondisi yang dituliskan secara gamblang oleh pak Yongky punya kemungkinan untuk terus relevan dalam jangka waktu yang sangat panjang. Jelas apresiasi masyarakat (pengguna jasa maupun konsumen) kepada perancang grafis sangat terkait dengan perkembangan budaya dan ekonomi yang terjadi di negara kita sendiri. Namun saya yakin bahwa situasi yang saat ini kita hadapi adalah suatu proses yang sangat perlu dalam perkembangan desain grafis kita.

    Namun, seperti judul tulisan ini, ini semua adalah tantangan masa depan. Malah seharusnya tantangan masa kini yang sewajarnya jadi perhatian kita semua para pemerhati profesi desain grafis Indonesia. Dan ini dimulai dari diri kita sendiri. Memberikan contoh satu etika yang baik, professional, tentunya apresiasi terhadap profesi desain grafis sendiri.

    Dan bahwa pendidikan adalah fundamental yang sangat perlu, karena tidak hanya mengembangkan “skills” tapi juga kreatifitas, daya analisa dan professionalism. Namun dunia industri adalah realita yang selalu dinamis sesuai dengan segala pengaruhnya (ekonomi, budaya, teknologi,sumber daya). Jadi seperti yang pak Prof. Yongky Safanayong tuliskan di penutup, kearifan, keinginan untuk senantiasa belajar dan sikap terbuka adalah beberapa kunci pokok untuk menjawab tantangan dunia profesi desain grafis kita saat ini.

  11. Numpang nimbrung nih para seniorku…

    Membaca artikel dan komentar-kementar di atas, saya sebagai praktisi desain grafis otodidak ( alias kuliah apa sekarang jadi apa ) berharap kiranya para senior ini banyak-banyak menerbitkan buku mengenai desain grafis ( tentunya dengan harga yang terjangkau ). Buku tentang desain grafis sangat jarang dipasaran, dari hasil pencarian saya ada beberapa buku karangan Bpk. Yongky Safanayong dan Surianto Rustan.
    Saya mengakui buku-buku ini sangat berguna untuk saya ( desainer otodidak ) karena buku ini ibarat pedoman / arahan / step by step proses pembuatan desain dan penjabarannya. Thank’s salute untuk Bpk. Yongky

  12. Desain grafis yang kita pahami saat ini sedikit banyak terpengaruh dengan apa yang sedang terjadi di dunia barat. Sayangnya kondisi masyarakat barat dan Indonesia sangat berbeda. Pola pikir dan ekspektasi dunia industri sekaligus dunia akademis di barat dan Indonesia tentu tidak sama. Apa yang ditawarkan Pak Yongky dengan etika yang memasukkan ketuhanan dan komunikasi intercultural sangat relevan sekali di Indonesia. Ini sesuatu yang tak ditawarkan oleh desainer dan pemikir di Barat. Mereka membedakan antara desain yang rasional terhadap keimanan terhadap Tuhan. Sedangkan alam masyarakat Indonesia kendati bukan negara agama, kental dengan kehidupan beragama. Keragaman budaya Indonesia juga lebih semarak daripada masyarakat barat.

    Mungkin reaksi yang lebih cocok dg persoalan yang dilempar Pak Yongky bukan mengenai apresiasi desain yang tidak dihargai oleh masyarakat, tapi mengenai seperti apa masyarakat kita sebetulnya? Segala yang sudah dipikirkan di barat tentu lebih cocok diterapkan di barat. Segala paradigma bahwa desain seharusnya begini begitu pun tentunya muncul karena situasi masyarakat yang bersangkutan. Sebelum berkhayal “bagaimana seharusnya”, lebih jauh lagi kita seharusnya memikirkan “bagaimana keadaan kita yang sebenarnya”?

  13. Apa yang ditulis pak Yongki sangat menarik. Etika profesi adalah sebuah kesepakatan bersama yang menyangkut sikap dan integritas dalam sebuah profesi, agar tidak melanggar kepentingan publik. Etika profesi desain memang harus diperkenalkan kepada calon desainer sejak dia di tahap pendidikan desain. Bahkan lebih jauh lagi, lembaga pendidikan tinggi desain tidak hanya memperkenalkan etika desain – namun dapat berperan untuk mengembangkan dan memberi orientasi etis bagi industri desain.

    Untuk berbicara tentang desain yang etis, kita sebagai pelaku desain harus terus-menerus merefleksi diri; sudahkah kita bersikap etis sebagai individu? Hal ini dengan menarik ditampilkan dalam rancangan cover depan buku David B. Berman: Do Good Design, how designers can change the world (2009), dimana pada judul “Do Good Design” tersebut kata “Good” dicoret, sehingga judulnya dapat juga dibaca “Do Good”. hal ini yang membuat bersikap etis dalam desain menjadi tidak sederhana.

    Terlepas dari wajib atau tidaknya seorang desainer grafis percaya (dan takut) pada Tuhan yang Maha Esa, tulisan Prof. Yongky Safanayong sangat penting untuk kita resapi dan menjadi panduan untuk bersikap dalam dunia desain. Terima Kasih untuk Prof Yongky yang sudah mengingatkan.

  14. Maaf ralat: pada sampul muka itu yang dicoret adalah kata “Design” – sehingga terbaca “Do Good”. Terima Kasih

  15. suatu wacana komprehensif bagi seseorang dalam memahami pentingnya peradaban di bidang komunikasi visual. membuka perspektif baru bagi tiap insani dalam memahami pentingnya kultur, nilai, bahasa, ruang dan waktu.

    hal yang perlu disikapi dengan etika berprofesi secara baik dan benar.

    ya, relatifnya baik,logisnya benar.
    kembali kepada seseorang untuk membagi waktu dalam melihat keobjektifan dan kesubjektifan secara tepat sasaran.

  16. Mas Karna…. “B” yg saya maksud hanya kiasan… (bukan singkatan dari ‘benar’.. gitu lo…

  17. the problem is most of Artists and Designers avoid writing and reading, that’s why their discourse or anything that could be their discourse was colonized and defined by others. So, don’t just do it, but think before you did it.

  18. apakah ini kiasan dgn mengatakan bahwa kalau: “…di Pendidikan bilangnya “A”, ternyata di industri sebenarnya “B”…”?

  19. industri tidak lebih ‘benar’.. pendidikan juga tidak selalu ‘benar’.

  20. “Bahwa etika profesi desain grafis pada masa depan tidak cukup memiliki kecerdasan intelektual, tapi juga wajib memiliki kearifan spiritual yang senantiasa takut kepada Tuhan – pencipta seisi alam semesta dan memiliki kemampuan komunikasi interkultural.”

    Saya setuju sekali dengan pendapat Bapak, bahwa designer perlu selalu kembali kepada Sumber di mana segala sesuatu berasal.
    Hal yang menggelitik saya adalah juga apa yg Karna katakan di atas sebagai berikut:

    “desain adalah berpikir tentang bagaimana menjadi manusia ‘beradab’ yg artinya mendesain segala sesuatu yang tepat pada tempatnya masing-masing secara sesuai.
    Pemahaman semacam ini sudah hangus ditelan komersialisasi produk desain dan kapitalisasi kreatifitas desainer.”

    Saya melihat dengan adanya komersialisasi dan kapitalisasi tersebut, hal ini benar2 menggiring, bukan hanya kita para designer, tetapi juga para profesional di bidang-bidang yang lain, untuk hanya melakukan apa yang “diperintahkan” kepada mereka, tanpa mempertanyakan apa yang tidak pada tempatnya dan menjadi “malas” untuk menjadi kritis terhadap nilai-nilai apa yang seharusnya berlaku, dan apa yang seharusnya tidak berlaku.

    Tanpa berbalik kepada si Sumber Utama, tentu setiap manusia hanya akan mengikuti trend yang ada, memenuhi kebutuhan jasmani, dan mengikuti mayoritas, tanpa mempertanyakan kebenaran dari apa yang dikerjakan.

    Karena untuk mempertanyakan kebenaran ini dan berlaku kritis, akan ada harga yang dibayar, dan hal ini tentu akan dihindari di dunia yang serba mudah, instant, di dunia komersial ini.

    Yes, designers are definitely meant to change the world. Pertanyaannya adalah, apakah dengan hanya mengikuti arus, seseorang dapat mengubah dunia?

    Mari kita menjadi seorang designer yang sesungguhnya, seperti yang diungkapkan oleh Bpk Yongki dan dinyatakan di komentar2 sebelumnya, untuk bersumber bukan hanya kepada pemenuhan kebutuhan jasmani saja, tetapi terutama kepada Tuhan, dan menyelaraskan apa yang harus kita lakukan kepadaNya.

    Hal ini akan membawa kita kepada lingkungan yang lebih baik, dan mengembalikan banyak hal kepada tempat yang seharusnya.

    Terima kasih untuk artikel Bapak, dan juga untuk komentar-komentar kritis rekan-rekan di atas.

  21. bisakah saya mendapatkan pengarahan tentang bagaimana menjadi seorang dsign grafis yang handal,baik dan benar

Add Your Comments

© DGI-Indonesia.com | Powered by Wordpress | DGI Logo, DGI's Elements & IGDA Logo by Henricus Kusbiantoro | Web's Framing by Danu Widhyatmoko | Developed by Bloggingly