Desain Grafis Indonesia

Desain Grafis Indonesia

Fostering understanding among Indonesian graphic designers and its juncture in art, design, culture and society

Desain Typeface Huruf Latin Berkarakter Aksara Nusantara (HLBAN) sebagai Ragam Bentuk Tulisan dalam Era Pascamodern; Sebuah Perkembangan atau Distorsi Nilai Budaya?

Oleh: Njoo Dewi Candra Kertasari

Fenomena Tipografi

Dunia tipografi Indonesia mulai bergolak. Desainer-desainer huruf (tipografer) muda mulai bermunculan mengiringi pesatnya perkembangan disiplin ilmu Desain Komunikasi Visual di seluruh pelosok nusantara. Hasrat para tipografer untuk selalu berkarya dan memberikan kontribusi yang positif bagi bangsa Indonesia tentu patut kita dukung dan kita banggakan. Salah satunya kontribusi di bidang pengembangan karakter Aksara Nusantara menjadi desain Huruf Latin dengan tujuan menjaga kelestarian budaya bangsa.

Di tengah maraknya desain-desain Huruf Latin yang menyerap karakter Aksara Nusantara, muncul aneka pro dan kontra, serta embel-embel kekhawatiran akan ancaman distorsi makna dan nilai budaya nusantara secara hakiki.

Sebagai desainer, tipografer, seniman, budayawan, maupun sebagai masyarakat awam, tentu kita harus mempunyai sikap dan pandangan yang jelas dalam menghadapi fenomena semacam ini.

Sekilas mengenai Sejarah Aksara Nusantara dan Huruf Latin

Penemuan silsilah aksara telah membuka tabir korelasi antara Aksara Nusantara dengan Huruf Latin. Disebutkan bahwa Aksara Nusantara maupun Huruf Latin ternyata berkembang dari akar budaya yang sama yaitu Budaya Semit Kuno, serta memiliki kedudukan yang sama. Artinya, Aksara Nusantara bukan merupakan bentuk perkembangan dari Huruf Latin, ataupun sebaliknya.

Bila diibaratkan sebuah keluarga, Aksara Nusantara adalah sepupu dari Huruf Latin. Keduanya merupakan turunan dari leluhur aksara, yaitu Aksara Semit. Aksara Semit kemudian mengalami perkembangan menjadi Aksara Aramea dan Aksara Funisia. Aksara Aramea berkembang lebih lanjut menjadi Aksara Nusantara. Sedangkan Aksara Funisia terus berkembang menjadi Huruf Latin.

Aksara Nusantara mulai muncul dan berkembang sejak masuknya peradaban Hindu di wilayah nusantara. Yakni ditandai dengan digunakannya Aksara Pallawa yang kemudian berkembang menjadi Aksara Kawi. Lalu Aksara Kawi berasimilasi dengan ragam budaya nusantara sehingga menghasilkan berbagai bentuk Aksara Daerah, seperti Aksara Jawa, Aksara Bali, Aksara Sunda, Aksara Batak, Aksara Kerinci, Aksara Rejang, Aksara Lampung, Aksara Bugis, dll. Perkembangan Aksara Daerah yang berasal dari Aksara Kawi mulai digantikan oleh aksara bercorak Arab pada periode masuknya peradaban Islam, seperti Aksara Arab Gundul dan Aksara Pegon. Pada periode peradaban Barat (masa kolonial) perkembangan Aksara Nusantara mulai terhenti. Sarana bahasa tulis nusantara secara perlahan namun pasti didominasi oleh Huruf Latin.

Problematika Budaya dan Aksara Nusantara

Aksara Nusantara semakin hari semakin tergusur oleh Huruf Latin. Aksara Nusantara seakan tidak memiliki kekuatan yang cukup dalam menghadapi dominasi Huruf Latin. Padahal, bila berkaca dari sudut pandang sejarah, baik Aksara Nusantara maupun Huruf Latin memiliki kedudukan yang sama. Namun pada kenyataannya, saat ini Aksara Nusantara menjadi budaya tulis yang sangat kurang populer dibandingkan Huruf Latin.

Seharusnya, Aksara-aksara Daerah yang terkandung dalam ragam Aksara Nusantara merupakan warisan budaya yang wajib dilestarikan. Tetapi kurangnya pemahaman terhadap nilai warisan sejarah membuat masyarakat sering mengabaikan usaha pelestarian budaya, terutama aksara. Penghargaan masyarakat yang rendah terhadap artefak/benda-benda peninggalan sejarah seni budaya makin memperparah kondisi Aksara Nusantara. Tidak bisa dipungkiri, saat ini kondisi Aksara Nusantara memprihatinkan dan nyaris punah.

Sebagian masyarakat, seniman, beserta para budayawan berusaha mencari cara menyelamatkan warisan budaya aksara. Berbagai wujud kontribusi mereka mulai bermunculan. Mulai dari penggunaan aksara pada plang-plang nama jalan seperti Aksara Jawa di kawasan keraton Yogyakarta dan Aksara Sunda di Bandung, sablonan aplikasi desain aksara di kaos-kaos, hingga aneka pin dan cinderamata lokal bertuliskan aksara. Bahkan, beberapa pejabat daerah menetapkan Aksara Daerah sebagai salah satu materi wajib dalam kurikulum pelajaran sekolah.

Sayangnya, sebagian besar upaya pelestarian warisan budaya aksara baru sebatas usaha ‘kulit luar’. Pada umumnya masyarakat mencoba untuk langsung mengaplikasikan aksara sebagai solusi pelestarian budaya yang paling praktis dan realistis. Yang menarik adalah, berbagai usaha ‘menempel’ Aksara Daerah di sana sini sebagai hiasan ornamental maupun hiasan monumental ternyata bukanlah jalan keluar yang efektif. Sama halnya dengan aksara sebagai kurikulum pelajaran sekolah yang dipelajari namun tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, pada akhirnya tidak menghasilkan dampak perkembangan budaya yang berarti. Hal ini dikarenakan aksara tetap kehilangan fungsi utamanya, yakni sebagai sarana komunikasi tulis antar manusia dalam sebuah budaya/peradaban.

Tulisan sebagai Solusi Komunikasi Sebuah Peradaban

Pola komunikasi terus berkembang di tiap jaman. Tulisan, sebagai sarana utama dalam komunikasi, terus mengalami perubahan sesuai dengan dinamika budaya serta perkembangan pola pikir masyarakat. Tulisan dituntut mampu menjadi solusi bagi kendala komunikasi di tiap jaman. (Perhatikan tabel Perkembangan Tulisan)

PERKEMBANGAN AKSARA (TULISAN)

Seturut konteks jaman yang berubah, kebutuhan dan tantangan manusia dengan alam pikir, rasa, karsa dan cipta terus mengalami perubahan. Perubahan kebutuhan dan tantangan tersebut menjadi pendorong perubahan budaya. Jika dikatakan tidak ada yang tetap di dunia ini, mungkin yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri. Demikian juga dengan tulisan yang secara terus menerus mengalami perubahan seiring dengan berubahnya budaya komunikasi.

Bertahan atau tidaknya suatu jenis tulisan, bergantung pada kemampuannya mengatasi kendala/tantangan budaya komunikasi di tiap jaman. Apabila bukan merupakan solusi yang efektif, maka bentuk tulisan tersebut akan menghadapi dua pilihan: mengalami perkembangan atau ditinggalkan lalu digantikan oleh bentuk tulisan lain.

Pola problematika aksara sebagai komunikasi tulis pada dasarnya tak banyak berubah dari jaman awal sejarah tulisan. Permasalahan yang selalu dihadapi oleh aksara adalah bagaimana mengatasi kendala budaya komunikasi di tiap jaman. Kunci untuk menyelesaikan problematika tersebut terletak pada penempatan masalah dalam konteks waktu yang tepat.

Belajar dari sejarah tulisan, perkembangan budaya dan pengaruhnya di tiap jaman, dapat disimpulkan bahwa akan menjadi tepat apabila problem Aksara Nusantara saat ini ditempatkan pada konteks waktu yang sama (yaitu masa kini).

Aksara Nusantara dalam Era Pascamodern

Peradaban manusia telah melewati tahap-tahap pra-sejarah, sejarah, klasik, modern, dan kini memasuki era pascamodern.

Pascamodern adalah sebuah tahap perkembangan sosial yang dipikirkan sebagai melampaui modernitas. Sudut pandang yang diangkat adalah menyorot pada dampak perubahan radikal dari ekonomi era industri yang berkutat seputar produksi barang dan jasa menuju ekonomi pascaindustri yang diorganisasikan seputar konsumsi budaya, permainan media massa dan perkembangan teknologi informasi. Perubahan masyarakat modern menuju era pascamodern membawa dampak besar terhadap perkembangan budaya dan komunikasi.

Ciri-ciri budaya masyarakat pascamodern:

  1. Pengaruh budaya & media massa yang menjadi sedemikian kuat
  2. Konsumsi tinggi berbagai bentuk simbol-simbol & gaya hidup
  3. Serangan/kritik atas ide tentang realitas dan representasinya
  4. Prinsip pemersatu dari produksi cultural adalah imaji & ruang, bukan lagi narasi & sejarah
  5. Muncul aneka macam parodi, pastiche, ironi, kitsch & eklektisme pop seperti tampak dalam pementasan wayang kulit, dalam babak “goro-goro” di mana tokoh Bima di darat berbicara kepada Gatotkaca yang melayang di udara dengan menggunakan mobile phone
  6. Bentuk-bentuk seni urban menonjolkan unsur hiburan, “leha-leha” dan gaya hidup
  7. Pemujaan hibriditas. Klasifikasi, batas-batas, seperti batas antara budaya tinggi/elite dan budaya rendah/popular semakin mengabur bahkan ditinggalkan

Kendala sekaligus tantangan Aksara Nusantara sebagai sarana komunikasi tulis masa kini, dengan berpedoman pada ciri-ciri budaya masyarakat pascamodern adalah sbb:

  1. Perlu mengupayakan eksistensi dalam berbagai bentuk media massa
  2. Harus mampu menjadi ikon/simbol dinamika gaya hidup & tren masa kini
  3. Fleksibel dalam menghadapi berbagai serangan kritik budaya
  4. Menitikberatkan pengembangan kreasi imajinasi serta pengukuhan karakter dalam pembentukan sebuah budaya (culture), bukan hanya mengandalkan berbagai bentuk peninggalan sejarah seni masa lampau
  5. Perlunya memasukkan unsur ‘kekinian’ dalam karakter Aksara Nusantara sehingga lebih menarik, implementatif dan up to date. Contoh: Desain aplikasi nama untuk wallpaper dan screensaver ipad dengan model-model desain typeface HLBAN yang dapat didownload melalui internet
  6. Memanivestasikan karakter Aksara Nusantara diluar bentuk dasar Aksara Nusantara itu sendiri. Sehingga kebanggaan masyarakat terhadap aksara tidak lagi terbatas sebagai tulisan bersejarah dengan berbagai aturan bakunya namun karakternya tetap dapat diwujudkan dalam bentukbentuk ekspresi seni yang lebih menghibur. Dengan demikian, upaya pengenalan Aksara Nusantara menjadi lebih mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
  7. Menghindari sikap ekslusivitas budaya terhadap ragam budaya aksara lain. Keragaman aksara maupun dominasi budaya lain hendaknya dipandang sebagai faktor pemerkaya nilai Aksara Nusantara. Sehingga Aksara Nusantara bersifat terbuka dan mampu berbaur di jaman pascamodern. Termasuk menghindari pemikiran bahwa sebuah budaya hanyalah milik sekelompok kecil masyarakat suku pewarisnya. Keragaman budaya Aksara Nusantara hendaknya dipandang sebagai satu kesatuan kekayaan Nusantara.

Desain Typeface HLBAN sebagai Solusi Budaya Komunikasi Masa Kini

Konsep Huruf Latin adalah musuh bagi Aksara Nusantara sudah tidak relevan bagi masyarakat di jaman pascamodern. Studi, teori dan ciri-ciri pascamodernitas, dapat menjadi pedoman dalam mengambil langkah, sikap serta pandangan yang lebih luas dalam mengatasi problem punahnya Aksara Nusantara. Ragam Aksara Nusantara sebagai bentuk tulisan Phonograph Silabik, memiliki sifat kontradiktif dengan budaya praktis masa kini. Tiap jenis Aksara Daerah memiliki problem seputar readability, legibility dan memiliki kerumitan tersendiri. Sedangkan Huruf Latin sebagai bentuk tulisan Phonograph Fonetik memiliki keunggulan dari segi readability, legibility, efisiensi dan kepraktisan. Hal ini mewakili ciri khas budaya Barat yang dikandungnya.

Faktor yang turut memperkuat dominasi Huruf Latin di kawasan nusantara adalah kekuasaan budaya Barat atas sebagian besar teknologi komunikasi yang dikonsumsi oleh masyarakat nusantara. Tidak terbatas sampai disitu, Huruf Latin bersama dengan pesatnya perkembangan teknologi hasil peradaban Barat terus menggempur pertahanan budaya bangsa-bangsa lain dalam skala global.

Penting diingat bahwa tulisan-budaya-peradaban merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Usaha menggunakan kembali aksara nusantara sebagai media tulis masa kini, bagaikan usaha kembali ke peradaban masa lampau. Itu berarti usaha teramat berat yang berkaitan dengan perubahan budaya dan peradaban seluruh masyarakat nusantara.

Dalam posisi Aksara Nusantara sebagai budaya lokal menghadapi gempuran Huruf Latin sebagai bagian dari budaya tulis global, idealnya Aksara Nusantara dapat digunakan sebagai secondary type setelah Huruf Latin. Posisi Aksara Nusantara sebagai budaya lokal terhadap Huruf Latin sebagai budaya global, difungsikan seperti bahasa ibu (bahasa daerah) dengan bahasa nasional (bahasa Indonesia) yang dapat digunakan secara bersamaan. Namun realitanya, Huruf Latin tetap menjadi prioritas utama.

Untuk memasyarakatkan kembali Aksara Nusantara melawan arus dominasi Huruf Latin, harus diimbangi dengan usaha membangkitkan kembali budaya dan peradaban nusantara. Artinya, tanpa pematangan dan pemahaman konsep yang jelas tentang budaya nusantara, perjuangan Aksara Nusantara keluar dari tekanan Huruf Latin dan arus budaya Barat merupakan suatu bentuk perlawanan tanpa strategi. Upaya memasyarakatkan kembali Aksara Nusantara tanpa strategi tersebut pada akhirnya hanya akan menjadi usaha yang melelahkan tanpa hasil yang memadai.

Desain typeface HLBAN yang mengusung ide memodernkan Aksara Nusantara, merupakan solusi yang lebih praktis dan realistis namun tetap efektif. Gagasan utamanya adalah menghidupkan kembali karakter Aksara Nusantara melalui konsep kekinian yang sesuai dengan tuntutan gaya hidup masyarakat pascamodern. Desain typeface HLBAN juga bersifat fleksibel dan implementatif sebagai sarana komunikasi yang dapat dikonsumsi oleh seluruh ragam budaya masyarakat nusantara. Sebagai contoh, Aksara Batak selama ini kurang diminati, hal ini berkaitan dengan unsur klenik yang terkandung sepanjang sejarah terbentuknya Aksara Batak. Namun hasil desain typeface Huruf Latin Berkarakter Aksara Batak Toba, dapat digunakan sebagai media komunikasi tulis yang komunikatif bagi masyarakat Jawa, Bugis, Ambon, disamping masyarakat Batak sendiri.

Bentuk-bentuk desain typeface HLBAN adalah suatu inovasi budaya Aksara Nusantara yang sesuai dengan perkembangan jaman, yaitu peradaban masyarakat pascamodern. Efektivitas dari typeface HLBAN ini sudah tentu lebih tinggi dibandingkan usaha pelestarian manual melalui penerapan Aksara Nusantara dalam bentuk ornamental ataupun monumental. Karena desain typeface HLBAN dapat diandalkan dalam mengoptimalkan komunikasi melalui perkembangan teknologi dan media massa.

Upaya melestarikan aksara melalui desain typeface HLBAN merupakan salah satu bentuk usaha berskala global, menembus konsep lokal & pandangan sempit yang bersifat kedaerahan dari Aksara Nusantara selama ini. Dengan demikian, desain typeface HLBAN membuka kembali peluang eksistensi Aksara Nusantara tidak hanya di kawasan nusantara tetapi juga dunia internasional. Usaha meraih kembali eksistensi Aksara Nusantara secara luas, akan melahirkan tren-tren baru cita rasa lokal yang mempengaruhi perkembangan budaya nusantara di masa mendatang, khususnya budaya komunikasi tulis aksara.

Kekhawatiran mengenai distorsi nilai budaya secara hakiki dari Aksara Nusantara perlu dikaji ulang. Karena terdapat perbedaan mendasar antara nilai budaya sebagai bagian dari sejarah masa lalu dengan nilai budaya dalam peradaban masa kini. Sejarah kejayaan Aksara Nusantara di masa lalu dapat terus dieksplorasi dan dipelajari tetapi tidak akan dapat diubah. Namun sebagai bagian dari masyarakat nusantara, kita berperan dalam pelestarian budaya nusantara di masa kini dan di masa mendatang.

Meski demikian, desain typeface HLBAN bukan bertujuan untuk merusak citra kejayaan sejarah Aksara Nusantara di masa lalu, tetapi menitikberatkan bagaimana mengolah warisan sejarah kebudayaan tersebut agar roh/karakternya dapat tetap hidup dalam dinamika masyarakat pascamodern. Tujuan desain typeface HLBAN adalah menjadi agen budaya yang memperkenalkan kembali karakter Aksara Nusantara masa lalu kepada masyarakat nusantara (juga masyarakat global) di masa kini, dengan berorientasi pada lahirnya masa kejayaan Aksara Nusantara Modern di masa yang akan datang.

Desain typeface HLBAN merupakan jawaban atas tuntutan budaya pascamodern. Melalui desain typeface HLBAN, Aksara Nusantara kembali kepada fungsi hakikinya sebagai tulisan, yakni menjadi sarana budaya komunikasi manusia dalam sebuah peradaban.

Daftar Pustaka
Yayasan Harapan Kita. 1997. Aksara, Perum Percetakan RI, Jakarta.
Sihombing, Danton. 2001. Tipografi Dalam Desain Grafis. Jakarta: GPU.
Murray, Henry A dan Clyde Kluckhohn, (1953) Personality in Nature, Society, and Culture.
Sutrisno, M dan Putranto, Hendar. 2005. Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
______________. 1992. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat
Herimanto dan Winarno. 2009. Ilmu sosial & Budaya. Jakarta: Bumi Aksara.
Bambang S. Mintargo. 1993. Manusia dan Nilai Budaya. Jakarta: Universitas Trisakti
Rustan, Surianto. 2010. Hurufontipografi. Jakarta: GPU.
Kozok, Uli. 2009. Surat Batak. Jakarta: KPG.
Haswanto, Naomi. 2002. “Tinjauan Rupa Atas Aksara Batak Toba Sebagai Gagasan Bagi Tipografi Masa Kini”, Tesis, Bandung: FSRD ITB.
Kertasari, Njoo Dewi. 2009. “Huruf Latin Berkarakter Aksara Batak Toba”, Tugas Akhir, Bandung: FSRD ITB.

•••

« Previous Article Next Article »

COMMENTS

  1. Terimakasih buat tulisan diatas. Salam dari jauh. Irvan

  2. Melestarikan berarti tidak usah merubah apapun dari aksara tradisional. Yang saya lihat disini adalah inspirasi yang kemudian diolah menjadi bentuk-bentuk olahan alafabet yang baru dari desain yang lama.
    Sebuah apropriasi yang kreatif. Di sisi lain, bisa saja aksara tradisional tidak dirubah tapi di-refine misalnya menjadi bentuk digital.

    Tulisan diatas bagus sekali, sayangnya, proses kreatif yang dimulai dari mendapat inspirasi dari aksara tradisional hingga mengapropriasikannya, mengimplementasikannya ke dalam rupa alfabet latin yang dipakai sehari-hari, seakan terlupakan.

    Adalah mustahil hanya dengan mendesain adaptasi aksara tradisional menjadi alfabet latin dapat serta merta ‘menyelamatkan’ tradisi penulisan/penggunaan tulisan aksara nusantara tersebut.
    Lagipula, terlalu besar dilimpahkan tanggunjawab mengembalikan ‘kejayaan’ akasara nusantara, atau melawan tekanan huruf latin dengan aksara tradisional, hanya kepada tipografi, karena tipografi pun adalah anak kandung dari modernisme.
    Penyebaran teks-teks menjadi mudah didistribusikan adalah juga jasa dari modernisme.
    Tidak jelas maksud postmodernisasi lewat upaya desain ulang aksara nusantara ke dalam huruf latin sebagai sebuah pelesatarian atau perlawanan terhadap tekanan budaya huruf latin. Saya sungguh kebingungan terlebih lagi terhadap hipotesis ini:
    “…Desain typeface HLBAN merupakan jawaban atas tuntutan budaya pascamodern. Melalui desain typeface HLBAN, Aksara Nusantara kembali kepada fungsi hakikinya sebagai tulisan, yakni menjadi sarana budaya komunikasi manusia dalam sebuah peradaban…”

    begitu sedikit luahan kebingungan saya sampaikkan.

  3. @Irvan: salam

    @Karna:
    Bila kita mengharapkan Digitalisasi Aksara dapat menggulingkan posisi Huruf Latin yg telah mengglobal, sudah tentu suatu beban yg Luar biasa berat. Perihal menjayakan kembali Aksara Nusantara di masa yg akan datang adalah sebuah wacana saja.

    Tujuan penting dari tulisan ini ada 2; yakni sebagai Ulasan sejarah dan sebagai penggalakan (Agen) Aksara Nusantara melalui digitalisasi HLBAN.

    Bagaimana mungkin melestarikan suatu produk Budaya tanpa pemahaman Sejarah yg cukup?
    Untuk itulah ulasan sejarah Huruf diungkapan disini.

    Dapat anda teliti kembali paragraf di bagian akhir “Tujuan desain typeface HLBAN adalah sebagai AGEN BUDAYA yang memperkenalkan kembali karakter Aksara Nusantara masa lalu kepada masyarakat”

    Saran dari saudara untuk langsung mendigitalisasikan aksara nusantara yg asli sudah dilakukan pakar-pakar budaya juga pakar digital (contoh: Uli Kozok, pembuat digital aksara Batak) sejak beberapa tahun yg lalu dan anda dapat mendownload langsung melalui internet. Namun dari segi fungsi, tentu aksara asli tersebut akan menyulitkan pembaca karena sistem pembacaan aksara yg berbasis suku kata saat ini sudah tidak dipakai.

    Maka muncul pertanyaan, “Siapa yg mau dan bisa membaca tulisan aksara asli tersebut?”

    Untuk menjawab pertanyaan itulah, wacana pengolahan digital aksara Nusantara menjadi huruf latin dicetuskan di atas sebagai ALTERNATIF yg APLIKATIF untuk masa kini.

    Diharapkan, hasil kreasi aksara tersebut dapat berfungsi sebagai tulisan yg mudah dibaca oleh masyarakat. Tidak hanya berupa simbol-simbol masa lalu yg tidak dimengerti lalu dilupakan dan akhirnya punah.

    Jadi, Aksara yg asli tetap ada. Namun kita berupaya membuat bentuk adapatasinya ke dalam huruf latin dengan harapan HLBAN tersebut dapat muncul dimana saja (sebagai Agen visual) dan dapat dibaca oleh siapa saja…sehingga dapat membantu menjaga eksistensi aksara aslinya.

Add Your Comments

© DGI-Indonesia.com | Powered by Wordpress | DGI Logo, DGI's Elements & IGDA Logo by Henricus Kusbiantoro | Web's Framing by Danu Widhyatmoko | Developed by Bloggingly