Desain Grafis Indonesia

Desain Grafis Indonesia

Fostering understanding among Indonesian graphic designers and its juncture in art, design, culture and society

Desain itu Seni Terapan

Oleh Eka Sofyan Rizal

Kalau benar begitu berarti desain itu sama dengan seni; bedanya pada kata ‘terapan’. Agar memenuhi syarat sebagai ‘terapan’, berarti desain itu seni yang berorientasi kepada kegunaan yang berlaku untuk umum, bukan seni yang hanya berguna sebagai ekspresi pembuatnya. Desain itu harus patuh objektivitas, bersih dari pengaruh subyektivitas. Desain berpusat pada rekayasa masalah, bukan pada keinginan dan kebutuhan pembuatnya. Jadi, penekanan desain bukan pada karyanya dan juga bukan pula pada sisi pembuatnya, tetapi lebih mengurusi kegunaan karyanya. Pada akhirnya kita menikmati seni dari karyanya; dan menikmati desain dari kegunaannya.

Bersih Subyektivitas

Dalam banyak kesempatan, desainer bisa berfungsi sebagai publik sasaran –audience atau konsumen– dari program pembuatan desain yang dilakukannnya. Di sini desainer bisa mengambil peran ganda; sebagai pembuat sekaligus sebagai publik sasaran. Tata nilai subyektivitas bisa muncul pada saat desainer mengambil peran sebagai publik. Nilai kemanusiaan –seperti: hati nurani, aspirasi dan kreativitas– bisa muncul dan menjadi masukan untuk proses membuat objektif dari desain. Nilai kemanusiaan ini bisa kontributif terhadap kualitas desain pada saat desainernya secara aktif terlibat dalam dinamika publik, perhatian terhadap masalah sosial, budaya, pendidikan dan sektor lainnya. Nilai kemanusiaan ini bisa menjadi sumber inovasi desain, sehingga solusi desain bukan hanya berasal dari selera pasar yang justru menumpulkan kreativitas.

Rekayasa Masalah

Inti dari program desain adalah rekayasa masalah yang harus dimulai dari proses membentuk kekayaan pemahaman terhadap masalah. Ini mengandung kontradiksi dengan masih banyaknya yang berpandangan bahwa inti desain adalah tentang bentuk solusinya, sehingga seringkali merasa harus segera membuat sketsa dan mewujudkan visualisasinya karena merasa sudah cukup pengetahuannya terhadap masalah. Kondisi demikian membawa desainernya ke lingkup seni karena yang dilakukannya adalah langsung melompat ke proses membuat ekspresi dari masalah, tanpa mempertanyakan lebih lanjut tentang jatidiri masalahnya. Mereka yang lebih mementingkan ekspresi dari suatu permasalahan visual memang lebih cocok disebut seniman dibanding desainer.

Menikmati Kegunaan

Pada saat kita menikmati sebuah karya desain, seringkali tanpa sadar kita mengacuhkan wujud karyanya tetapi lebih termotivasi oleh kegunaannya. Seperti kata Paul Rand; “Graphic Design is the Language.” Jadi, memang desain bukan isi pesannya, ia adalah bahasa penyampai pesannya; dengan catatan bahwa kualitas bahasa juga sangat mempengaruhi tersampaikannya pesan dengan baik. Sementara di luar itu apabila kita lihat dari sudut komunikasi, seni justru menempatkan karya sebagai inti pesannya dan seniman sebagai sumber pesannya.

. . .

Eka Sofyan Rizal
Chairman FDGI (Forum Desain Grafis Indonesia)
Principal Paprieka Design

. . .
. . .

Komentar-komentar melalui DGI di facebook:

Artikel terkait: Desain Itu Juga Seni RupaFX Harsono

•••

« Previous Article Next Article »

COMMENTS

  1. saya suka bagian yg ini:
    “Inti dari program desain adalah rekayasa masalah yang harus dimulai dari proses membentuk kekayaan pemahaman terhadap masalah.”

  2. terima kasih pak eka, senang bisa membuka pikiran lewat artikel anda, ada beberapa yang saya kutip:

    ” bukan seni yang hanya berguna sebagai ekspresi pembuatnya ”

    (“hanya” saya garis bawahi)
    bukankah di seni juga terdapat kategori seni untuk seni dan seni untuk masyarakat, dalam kategori yang ke dua tersebut terlihat kemiripan peranya dengan designer..?

    terima kasih pak Eka :P

  3. ya seorang desainer setidaknya paham estetika/ seni juga supaya lebih enak dipandang dan tentunya juga tidak meninggalkan fungsi produk yang akan dihasilkan

  4. terimakasih tim dgi! trims reactivator!
    sayangnya, saya juga masih sering terjebak dalam kondisi merasa sudah tahu permasalahannya dan langsung mencoba merekayasa visual :) jadi, artikel di atas berfungsi sbg reminder buat sy.

  5. makasih radhinal!
    kemungkinan besar, seni utk publik tetaplah didorong oleh interpretasi personal senimannya, cuma lingkup karyanya berhubungan dengan masalah publik. Jadi, karya seni utk publik itu tetap harus bebas dari kebutuhan untuk memenuhi obyektivitas tertentu yang akan mengekang ekspresi senimannya sebagai manusia merdeka. karena kalau pengkaryaan itu didominasi kebutuhan utilitarian/yang berfungsi praktis, maka pekerjaannya masuk ke desain atau kerajinan.

  6. makasih, sdr toto haris!
    benar, desainer hrs sangat paham estetika dan seni, karena hal tsb berhubungan dg memahami kekayaan persepsi inderawi manusia ttg keindahan (sekaligus keburukan). atas pengaruh seni, desain jadi sangat dekat dengan manusia, tidak jadi alat atau media yang membosankan, tidak memotivasi atau -yang lbh parah- desain jadi tidak menarik perhatian. kalau sudah tdk menarik, jangan berharap publiknya akan menikmati kegunaannya.

  7. iya saya juga masih sering begitu kok pak, karena “tekanan” deadline dari klien yg bikin saya tidak punya cukup waktu utk rekayasa masalah lebih dalam. tapi itu tidak semuanya, masih ada beberapa yg cukup waktunya utk rekayasa masalah lebih dalam. :)

    btw terima kasih ya Pak.

  8. Tulisan dimulai dengan: kalau benar begitu (desain itu seni terapan), berarti desain itu… dst… Pertanyaan jail, kalau tidak begitu? desain bukan… dst… ^_^

    Ada kelompok yg memang menganggap desain bukan seni, karena itu dipisahkan antara seni dan desain. Lebih jauh ilmu desain bukan tentang terapan/ aplikasi, di belakangnya ada tentang cara berpikir, menanggapi dan berbuat. Entah mana yg betul, mereka sesama seni atau tidak.

    Kubu seni menolak pandangan bahwa seni adalah ekspresi pribadi yg marak pada era Nabism. Seniman modernis memandang aktifitasnya sebagai kerja keilmuan/ science dalam estetika, kadang menyerempet ke filsafat. Seniman masakini yg menentang estetika, kembali merangkul masyarakat, dan mengangkat masalah sosial (taring padi), bukan pribadi.

    Hanny Kardinata sempat berpikir jangan-jangan seni sama saja dengan desain (terutama pada medan seni masakini), konsep, eksekusi dan medium, cuma beda cara eksplorasi? Kembali ke pengandaian di atas, “kalau desain itu ….” tulisan di atas adalah jawaban baik untuk sebuah kalau, dan tak menutup kemungkinan kalau yang lain, trims Kang Eka..

  9. Kalau boleh saya ajukan sebuah pendapat, mengacu pada pandangan seni dari Marcia Mueler Eaton (1988), barangkali ‘Desain’ (dengan ‘D’ besar) adalah satu diantara apa yang dia katakan sebagai ‘estetika terapan’. Karena ketika kita bicara soal Desain, kita tidak bicara hanya soal sebuah produk yg dapat di-inderai, tetapi juga menyangkut hal-hal intrinsik yg bersifat estetis sekaligus juga etis.
    Dengan begitu saya merasa lebih mesra bila Desain itu Estetika Terapan. =)

  10. halo pak Pri yg sy kagumi; terimakasih pak!
    hehe, pengamatannya jeli juga pak, ini namanya artikel yang curang, krn bermakna relatif :)

    tegangan desain-seni baik utk dibincangkan supaya memperkaya makna seni & desain itu sendiri; walaupun pada awalnya bisa membuat bingung, diharapkan pada akhirnya muncul penghormatan thd kekayaan sudut pandang manusia dan kebijaksanaan utk saling berbagi dan mempengaruhi.

    sy pikir, seni itu berfungsi untuk memaksimalkan harkat dan martabat manusia, mendayagunakan seluruh kemampuan akal budi manusia, membuka kemungkinan2 baru. seni harusnya selalu berubah sesuai (mendahului) dinamika manusia dan jamannya. kegiatan seni harusnya bersumber dari seniman2nya; dari kepeduliannya, kegelisahannya, eksplorasinya, shg bermanfaat utk dirinya dan utk publik.

    ada pula bentuk kegiatan yg bersumber dari kebutuhan publik yg menamakan dirinya klien (pada suatu kesempatan, kliennya bisa –sesama– desainer atau bahkan seniman); mereka tahu bahwa kegiatan ini harus ditopang unsur seni yg disinergikan dg unsur ilmu spesifik (yg terkait masalah) lainnya. klien menganggap bahwa orang yang tepat utk membantu adalah: desainer.

  11. Kang Eka, bener tuh. Paul Rand juga bilang design is art. Pak Tanto sangat berpikir gitu. Di dunia desain setidaknya dua kutub ekstrim, antar desain = estetik vs desain bukan estetik. Seni juga terbelah begitu dlm fenomena anti estetik misalnya. Pak Widagdo pernah bilang: “trend seni sekarang menjauhi estetik, sementara desain lebih estetik”. Mungkin gelombang posmo bikin semua pingin redefinisi? Kapan2 kita ngobrol, kalo perlu ajak Jim dan Yasraf…

    Bener sih makin diurai makin bingung. Tapi dari bingung kita belajar makin baik, semoga…. salam buat atuk…

  12. Kebingungan seperti ini sebenarnya perlu dan tidak perlu begitu dirisaukan, karena menurut saya dengan demikian kita kembali melongok kepada sejarah asal-usil darimana seni/desain. Masalah kebingungan ini terjadi karena manusia semakin ‘membendakan’ segala sesuatu, termasuk seni (ars) dan desain (designo). Kalo boleh saya kutipkan sedikit panjang dari 2 sumber ttg apa sebenarnya ars dan designo ketika muncul dahulu kala.

  13. Joseph J. Kockelmans (1986) dalam Heidegger on Art and Art Works menjelaskan pandangan mengenai maksud sebenar dari ‘art’. Berikut kutipannya:
    “In addition to the concepts of matter and form Plato also uses the term techne to speak about art….for the Greek techne is to be understood from phusis which is the concept that properly counters it. Phusis is the first Greek name for the beings themselves and for the beings taken as a whole…”
    “Originally the word did not have the connotation of making something or producing something….Techne therefore often just meant human knowledge….the word techne did not mean the making or the producing as such; it meant then, too, the knowledge which guides man in so doing.”

    Robert Williams pula dalam Art Theory: A Historical Introduction mengemukakan dua pandangan mengenai desain (designo). Berikut kutipannya:
    “In Idea of Painters, Sculptures & Architects (1607) Federico Zuccaro tries to show how the whole of art, indeed, all arts, are based upon the single principle of designo….developing Vasari’s concept of designo as a mental activity & as the principle that unites the art of painting, sculpture & architecture (1955)…designo is nothing less than the fundamental principle of all thought…designo must be understood as the essential activity of the soul, the process by which the soul realizes itself….it is the ‘idea of all thoughts’, ‘the concept of all concepts, form of all forms.’ It is the one thought contained in all thoughts, the ground of the possibility of thought itself… It is the power of designo that enables us even to describe what is designo.”

    Seni berawal dari ungkapan bentuk visual dari ekspresi yang penuh dengan makna. Seni memerlukan rupa agar terungkapkan ke dunia. Untuk mewujudkan seni itu maka seseorang berpikir dan dia mulai men-desain apa yang ingin dia ungkapkan. Tanpa membuat desain, seni barangkali tidak dapat wujud di muka bumi. Tanpa ada wujud pengungkapannya, seni akan terus berdiam hanya dalam sanubari dan ufuk pikiran seseorang.

    Pertama-tama kita perlu menginsyafi bahwa seni itu wujud, dan desain mewujudkannya. Bagaimana itu bisa terjadi? Saya sependapat dengan yang diungkapkan oleh John Heskett dalam buku mungilnya ‘Design: A Very Short Introduction’:
    “…An initial problem in delving into the origins of the human capacity to design is the difficulty in dtermining excatly where and when human first began to charge their environment to a significant degree…”

    Secara etimologi perkataan Seni yang kita kenali sebagai Arts adalah berasal dari Latin : Ars, yang artinya ‘skill’ kemampuan teknis, ‘techne’.
    Sedangkan desain berasal dari Latin : Designare – designo (italia). Konon katanya, di zaman Renaisans dulu, desain maksudnya adalah gambar – menggambar, yang dianggap teoritikus seni Giorgio Vasari sebagai basis dari semua seni visual. Tapi kemudian desain lebih dikenali sebagai barang atau produk.

  14. [...] agak terkejut membaca tulisan Saudara Eka Sofyan Rizal yang berjudul “Desain Itu Seni Terapan”. Pernyataan tentang terapan sudah jelas bahwa itu melekat dengan fungsi, sehingga tidak perlu [...]

  15. wow, pembahasan yg menarik bung Karna, terimakasih.
    ini memperkaya sudut pandang terhadap makna kata seni dan desain.

    sebagai kata bebas, seni memang bisa berlaku juga dalam seni memasak, atau estetika gastronomi, misalnya. desain juga bisa berlaku untuk kegiatan membuat strategi bisnis perusahaan, misalnya.

    bagaimana ketika itu menjadi dalam konteks: “apa bedanya seni grafis dan desain grafis?” mungkin juga bisa membantu kita melangsungkan pembahasan?

  16. iya, setuju begitu; design itu seni.

    bener pak, kalau percaya dg estetika, hrs bisa nerima juga yg anti estetik, kalau nggak kan nggak ada pijakan utk menilai makna estetika itu sendiri. kayak ‘break the rules’ kan hrs jelas dulu ‘rules’ apa yang di-’break’…

    posmo juga hrs berangkat dari modernism ya pak, kalau nggak bakalan bingung ‘post’ apa?juga apa yg diseterukan, mana yg disebut ketinggalan jaman? banalism yg banyak dianut saat ini juga termasuk memperkaya makna estetika, tepatnya mungkin masuk ke yg anti estetik.

    anti-design juga berupaya meredefinisi makna ‘citarasa yg bagus/good taste’ itu yg bagaimana? mereka tdk setuju dg stereotip ‘good taste’ ala modernis, yg dianggap terlalu rapih, indah, tertata, maknanya dalam, shg mengambil jalan radikal utk membawa hal2 dangkal-spontan, biasa, tidak orisinil, utk dipakai sebagai ekspresi visual.

    wah senang rasanya kalau kita terbuka terhadap segala macam kemungkinan pemikiran manusia. hidup jadi penuh warna ya pak.

    iya nih, kapan DGI akan memfasilitasi talkshow eksploratif antara: pak Pri, pak Yasraf, pak Jim dan mas Karna, nih? bakalan seru banget… (sambil buang bodi, hehe)

    terimakasih pak.

  17. Mas Eka,

    sedang digodok acara2 offline-nya DGI, salah satunya adalah mempertemukan para jagoan dalam satu meja. hasil diskusinya akan disebarluaskan lewat situs DGI sebagai bentuk pengayaan pemikiran bagi perkembangan desain grafis Indonesia.

    semoga dapat hadir dalam waktu dekat =)

  18. Persoalan seni grafis dan desain grafis bisa ditinjau dari kesejarahan. Di Jepang dan juga di Eropa, kelahiran desain grafis dibidani oleh seni grafis. Sedangkan di amerika desain grafis dibidani oleh seni komersil (periklanan) – ini menurut sebagian pendapat. Untuk lengkapnya kajian kritis sejarah desain grafis boleh dirujuk buku Graphic Design History: A Critical Guidedari Johanna Drucker.
    bisa diintip di http://observatory.designobserver.com/entry.html?entry=6827

  19. [...] March 16, 2010 | Article | 18 [...]

  20. hmmm….bukankah DESAIN itu DESAIN ? dan SENI itu SENI?
    Jika faktor estetika yang dianggap dominan maka jadinya ESTETIKA DESAIN dan ESTETIKA SENI.
    Jika faktor pemecahan masalah, kedua-duanya bisa jadi solusi maupun menjadi masalah.
    Jika faktor klien, nah disini yang beda DESAIN kerja berdasarkan keinginan klien sementara SENI kerja berdasarkan siapa aja yang inat jadi klien. :)

Add Your Comments

© DGI-Indonesia.com | Powered by Wordpress | DGI Logo, DGI's Elements & IGDA Logo by Henricus Kusbiantoro | Web's Framing by Danu Widhyatmoko | Developed by Bloggingly