Desain Grafis Indonesia

Desain Grafis Indonesia

Fostering understanding among Indonesian graphic designers and its juncture in art, design, culture and society

Buku “Do Good Design: Bagaimana Desainer Dapat Mengubah Dunia”

Cover depan

Cover depan dan belakang.

Halaman i

Halaman ii

Halaman 45

Halaman 121 dan 122

Halaman 180

Klik untuk memperbesar image

*) Kata pengantar dan tentang pengarang buku bisa dibaca di bagian bawah.

Do Good Design: Bagaimana Desainer dapat Mengubah Dunia*

David B. Berman
Cetakan Pertama Edisi Bahasa Indonesia, 2010
13,5 x 20,5 cm
xvi + 180 halaman
Rp. 80.000,-
Rp. 85.000,- (termasuk ongkos kirim untuk Jabodetabek)

Sinopsis
Bagaimana desain membantu dalam pemilihan presiden?
Mengapa banyak orang membeli rumah yang tidak mampu mereka beli?
Mengapa produsen mobil Amerika sekarang berjuang untuk hidup?
Sebenarnya mengapa krisis lingkungan itu terjadi?
Desain menjadi berarti, tidak seperti sebelum-sebelumnya.

Melucuti senjata penipu masal
Para desainer menghadirkan apa yang kita lihat, pakai, dan alami. Di era krisis lingkungan, sosial, dan ekonomi ini, para desainer dapat menentukan untuk ‘ingin dianggap apa’. Apakah menciptakan kebohongan yang mendorong konsumsi yang berlebihan ATAU mendorong perbaikan di dunia.

Do Good Design adalah panggilan untuk melakukan aksi:
Buku ini mengingatkan para perancang pada peran yang dimainkan dalam mempengaruhi khalayak global untuk memenuhi kebutuhan yang diciptakan. Buku ini menggaris bawahi kegiatan yang berkelanjutan untuk menghadapi praktik dan konsumsi sebuah desain. Banyak profesional yang akan terinspirasi oleh pesan tentang bagaimana sebuah industri dapat merasakan dirinya lebih baik dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang ditetapkan.

Saat ini, setiap orang adalah seorang perancang. Dan masyarakat di masa depan adalah proyek desain kita bersama.

Resensi
Sila klik » Do Good (Design) – Sebuah Resensi

Artikel terkait:
Karena Desainer Dapat Mengubah Dunia

Do Good Design

INFORMASI PEMESANAN

Harga buku belum termasuk biaya kirim Rp. 80.000,-
Harga untuk Jabodetabek Rp. 85.000,- (termasuk ongkos kirim).
Untuk daerah lain, harap email alamat tujuan pengiriman ke store@dgi-indonesia.com atau sms ke: +62 858 90 2323 10 atau +62 818 0602 7099, biaya kirim akan kami hitungkan.

Cara Pembayaran

a. Transfer via internet banking:

BCA Cabang Pondok Indah. No. 2371360907 a/n Hanny Kardinata. Login ke www.klikbca.com atau
Bank Mandiri Cabang Bintaro. No. 1640000247785 a/n Hanny Kardinata. Login ke www.bankmandiri.co.id

b. Transfer via ATM ke:

BCA Cabang Pondok Indah. No. 2371360907 a/n Hanny Kardinata atau
Bank Mandiri Cabang Bintaro. No. 1640000247785 a/n Hanny Kardinata

c. Konfirmasi pembayaran* ke DGI Bookstore <store@dgi-indonesia.com>:

Sutjipto Tantra
+6285890232310
+6281806027099

d. Pengiriman diproses paling lambat satu hari setelah transfer pembayaran diterima.

* Cantumkan nama, alamat, email dan nomer telepon selular anda saat konfirmasi melalui SMS.

Catatan:
Ekspedisi di dalam DKI Jakarta antara 1-4 hari kerja, di luar DKI Jakarta sesuai ketentuan JNE.

DGI Bookstore berusaha agar pemesanan anda dapat segera diproses dan produk dapat dikirimkan secepat mungkin. Sebagian produk yang kami jual tersedia di stok gudang kami, tetapi ada juga yang harus kami ambil langsung ke gudang penerbit atau kembali ke penerbit atau desainernya. Hal ini dapat menyebabkan lamanya pengiriman
bertambah. Karena itu diharap bantuannya agar segera melakukan proses pembayaran dan konfirmasi setelah anda melakukan order.

Belanja baru diproses setelah ada konfirmasi pembayaran.

Lama pengiriman dihitung sejak pembayaran anda lunas.

Lama pengiriman yang tercantum adalah perkiraan kami dengan catatan semua produk yang anda pesan dapat kami sediakan dari gudang kami. Dalam beberapa hal kadangkala bisa terjadi ketika anda melakukan order, buku atau merchandise yang anda pesan ada, tetapi karena banyak pembeli lain yang membeli produk yang sama dan langsung membayar lunas sehingga stok gudang DGI Bookstore habis maka kami harus memesan kembali ke penerbit atau desainernya. Hal ini dapat menyebabkan lamanya pengiriman bertambah. Karena itu diharap bantuannya agar segera melakukan proses pembayaran dan konfirmasi setelah anda melakukan order.

Tips-tips berbelanja yang memudahkan pemesanan anda sampai sesuai dengan janji kami:

  1. Setelah anda melakukan pemesanan silahkan lakukan konfirmasi pembayaran pada hari kerja yang sama atau sebelum jam 16.00 wib, jika pemesanan dan konfirmasi pembayaran lewat dari jam 16.00 wib, proses pemesanan akan kami lakukan keesokan harinya.
  2. Berikan nama dan alamat yang jelas, email serta no. telepon yang bisa di hubungi jika diperlukan saat pengiriman, lebih baik jika diberikan ciri-ciri lokasi tujuan pengiriman pesanan anda. Hal ini lebih memudahkan baik kurir kami maupun kurir ekspedisi yang bekerjasama dengan kami.
  3. Jika ada pesanan yang belum tiba sampai dengan batas waktu yang ditentukan, harap langsung mengkonfirmasikan kode belanja anda. Karena jika sudah lewat terlalu lama kami agak kesulitan untuk melakukan pelacakan pesanan anda.
  4. Dimohon untuk mengaktifkan telepon selular anda selama proses pemesanan berlangsung, karena baik kurir maupun pihak ekspedisi kami selalu mengkonfirmasi pengiriman anda jika mengalami kesulitan dalam pencarian alamat anda.Jika pemesan/penerima belum menerima pesanannya padahal lama pengiriman sudah lewat waktu, silahkan tanyakan kepada bagian pengiriman melalui email DGI Bookstore <store@dgi-indonesia.com>

KATA PENGANTAR OLEH ERIK SPIEKERMANN**

Ketika manifesto First Thing First akan diterbitkan kembali oleh Adbusters untuk milenium baru ini, saya setuju untuk ikut menandatanganinya. Manifesto itu antara lain mengatakan, “Desainer.. menggunakan keterampilan dan imajinasi mereka untuk menjual pakan anjing, kopi mahal, intan, sabun cuci, gel rambut, rokok, kartu kredit, alat pengencang bokong, bir rendah alkohol, dan mobil-rumah untuk rekreasi dan kemping.” Siapa yang tidak setuju dengan pernyataan bahwa “keterampilan kami bisa digunakan untuk kegunaan yang bermanfaat”?

Saya menandatanganinya karena daftar itu ditandatangani juga oleh rekan-rekan dan teman-teman bernama besar, yang bahkan membuat saya merasa kecil. Lagipula orang yang menandatangani manifesto di tahun 1964 itu adalah idola-idola saya.

Namun sekarang saya hendak menunjukkan sedikit keraguan. Memang mudah saja menambahkan nama Anda dalam daftar desainer terkenal. Lalu Anda pun jadi ikut terkenal karena mereka. Tapi apakah itu mengubah apa yang akan kita lakukan di studio keesokan paginya? Apakah saya lantas berkata kepada pegawai saya, yang berjumlah 70-an orang itu, bahwa mulai sekarang kita hanya akan membuat iklan yang baik-baik saja, dan menolak klien yang komersial? Lalu kami tinggal menunggu order iklan yang memiliki kegunaan dan bermanfaat.

Bukankah orang yang ikut menandatangani itu juga menerima order untuk klien yang menggunakan karya mereka untuk menjual apa pun yang ingin dijual klien? Apakah menjual itu hal yang buruk? Apakah mendesain buku itu selalu baik karena tidak ada buku yang buruk? Apakah merancang rambu untuk transportasi umum itu adalah hal yang baik, sedangkan mendesain rambu penerbangan adalah hal yang buruk karena hanya orang kaya yang mampu naik pesawat? Lalu bagaimana dengan rambu untuk pusat perbelanjaan? Burukkah itu? Bagaimana jika untuk taman hiburan?

Berbeda dengan arsitek, yang menganggap bahwa bumi akan berhenti berputar kalau mereka tidak bekerja, kita para desainer grafis sadar bahwa bumi akan tetap berputar kalau pun kita tidak bekerja. Banyak hal memang akan terlihat lebih suram dan beberapa perusahaan akan menjual lebih sedikit produk mereka tanpa bantuan kita. Akan tetapi toh, hidup akan berjalan seperti biasa.

Ada situasi ketika kehadiran sebuah desain grafis (atau tidak adanya desain grafis) dapat mempertaruhkan nyawa. Pada 1997, terjadi kebakaran di bandar udara Dusseldorf, Jerman. Asap tebal membuat orang sulit melihat tanda darurat. Tanda itu ditempatkan pada posisi yang tidak semestinya. Ukurannya terlalu kecil. Penerangannya kurang. Enam belas orang meninggal karena mereka tidak dapat menemukan jalan keluar.

Setelah kejadian itu, kami dikontrak bukan hanya untuk merancang sistem tanda yang baru, yang mudah dilihat, bersinar cukup terang, dan mencolok mata. Akan tetapi kami juga bekerja sama dengan perancang bangunan untuk memastikan tanda itu terletak pada posisi yang mudah dilihat. Para arsitek ingin tanda itu “tidak mengganggu rancangan bangunan yang indah.” Namun hal itu akan mengulangi kesalahan sebelumnya. Kami sampai memaksa untuk bilang bahwa kami dikontrak bukan untuk membuat tempat itu kelihatan cantik, namun untuk membuat bandar udara berfungsi dengan baik. Sikap kami yang seperti itu tidak ada dalam kesepakatan kontrak, tetapi kalau kami tidak bersikap seperti itu, maka pekerjaan kami tidak akan ada gunanya.

Tanggung jawab saya, yang terutama, adalah kepada keluarga kecil dan keluarga besar saya: pegawai studio. Mereka bergantung kepada saya untuk kehidupan mereka. Mereka semua menjadi desainer karena ingin membuat sesuatu: yang lebih baik dari yang sudah ada. Tentu saja kami mendiskusikan jenis pesanan dan klien seperti apa yang dapat kami terima. Ada yang dengan aklamasi dapat kami sepakati. Misalnya, kami tidak mau menerima pesanan yang berhubungan dengan rokok, meskipun ada beberapa dari kami yang masih merokok. Kami masih mengerjakan order dari dunia otomotif. Banyak di antara kami yang masih punya mobil, meskipun pada dasarnya mobil adalah sebuah temuan yang amat sangat buruk.

Apakah yang kami kerjakan itu baik atau buruk adalah hal yang sulit untuk dinilai. Kita tinggal dalam dunia yang memang adanya seperti ini, dan kita mengambil keuntungan material yang disediakan dunia tersebut. Mengutip Max Bill, kita mengerahkan 90 persen tenaga untuk membuat sesuatu berfungsi. Lalu kita mengerahkan sisanya untuk membuatnya menjadi lebih indah.

“Desainer mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mempengaruhi cara kita melihat dunia, dan bagaimana kita hidup,” kata David Berman dalam buku ini. Saya sungguh setuju. Menurut saya, kita harus sepenuhnya sadar akan apa yang kita lakukan, untuk siapa kita bekerja, dan bagaimana pekerjaan itu mempengaruhi orang lain. Namun apa pun tujuan baik kita itu nantinya, kita mesti juga hirau betapa desain adalah sebuah bisnis dan harus hidup menurut aturan bisnis. Dan aturan itu haruslah tertulis. Masih ada secercah harapan akan adanya kesadaran dan tanggung jawab. Bahkan dua hal itu masih ada dalam dunia yang penuh bisnis dagang ini, yang kita jalani namun tidak bisa kita tinggalkan.

Setelah mengelola studio desain selama 30 tahun, saya tiba pada kesimpulan bahwa ada satu hal yang dapat kita lakukan dan tidak dapat dihentikan siapa pun. Kita sendirilah yang menentukan bagaimana kita harus bekerja. Apa pun aturan dan batasan yang diberikan dunia komersial yang menyewa jasa kita, kitalah yang membuat prosesnya. Bagaimana kita mengurus pegawai, supplier, klien, rekanan, bahkan pesaing, adalah hal-hal yang tergantung pada diri kita sendiri.

Cara kita membuat sesuatu adalah hal yang sangat penting. Dan itu dapat kita lakukan tanpa campur tangan orang lain. Memang kita masih harus mengisi laporan pajak, memastikan komputer berfungsi dengan baik, dan membayar sewa gedung. Namun cara kita bekerja dengan sesama dan dengan klien kita menjadi suatu hal yang membuat kita berbeda. Dengan melihat tema besar yang diusung buku ini, marilah kita memulai dengan melihat sekeliling. Kebaikan bermula dari rumah.

**) Erik Spiekermann adalah penulis, desainer informasi, dan tipografer. Mendirikan MetaDesign dan Fontshop, ia juga Profesor Kehormatan di University of Arts di Bremen, dan mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Pasadena Art Center. Selain itu, dia merupakan desainer pertama yang terpilih untuk masuk Hall of Fame dari European Design Awards untuk bidang Desain Komunikasi. Ia kini tinggal dan bekerja di Berlin, London, dan San Fransico. Studio miliknya, Spiekermann Partners, mempekerjakan 30 orang desainer.

SURAT DARI AIGA | RICHARD GREFE´***

AIGA menerbitkan refleksi penting atas kekuatan desain ini karena David Berman mengerti – dan mengkomunikasikannya dengan intentitas tinggi, jujur, dan jernih – bahwa kreativitas memiliki potensi untuk tidak hanya mengalahkan kebiasaan, tapi juga memberikan pengaruh dalam perubahan yang positif.

Hubungan AIGA dengan semangat dan komitmen David kepada prinsip sosial terjadi ketika dia menarik perhatian saya akan standar sosial dan lingkungan yang dia ajarkan kepada para desainer Kanada. Milton Glaser, yang sudah lama mempunyai komitmen yang sama atas tanggung jawab desainer, bergabung dengan saya dalam mengadaptasi standar AIGA mengenai hal-hal praktis yang harus dilakukan seorang desainer kepada publik. Sekarang, pandangan David menjadi inti kode etik desainer di Amerika Utara.

Pada 2008, AIGA Cina mempublikasikan standar ini. Pada saat itu terdapat satu juta mahasiswa yang baru saja memulai karir desain mereka. Standar ini adalah satu-satunya yang ada untuk ukuran profesionalitas seorang desainer.

Margaret Mead benar dalam hal ini: “Orang yang bersungguh-sungguh dapat mengubah dunia. Jangan ragukan hal itu.” Dan apa yang dikatakan David dalam buku ini memang dapat mengubah pandangan kita.

Kreativitas dapat mengubah kebiasaan.

Dan kita mengandalkannya.

***) Richard Grefé adalah direktur eksekutif AIGA, asosiasi desainer profesional di Amerika Serikat.

KATA PENGANTAR EDISI BAHASA INDONESIA | ENRICO HALIM

Konon ada pepatah yang mengatakan:

“Meminjamkan buku adalah salah satu perbuatan bodoh.

Perbuatan yang lebih dungu adalah mengembalikannya.”

Itu yang terlintas di kepala saya, ketika seorang teman meminjamkan buku Do Good Design edisi bahasa Inggris beberapa waktu lalu. Oleh karena tidak ingin melakukan perbuatan bodoh atau dungu, maka saya mengumpulkan sisa energi untuk menerbitkannya dalam bahasa Indonesia.

Buku ini diterbitkan dengan harapan dapat memberi wawasan tambahan mengenai kemampuan satu atau sekelompok orang untuk menjadi agen perubahan demi kondisi dunia yang lebih baik. Hal-hal yang ada dan menjadi rutin perlu dipikir ulang apakah tepat untuk dilakukan. Secara khusus, buku ini hendak mendorong para desainer untuk mengambil pilihan yang tepat demi perbaikan dunia. Sebenarnya, tidak hanya desainer, siapapun dapat melakukan kebaikan, sejauh ia berniat dan kemudian berbuat.

Banyak yang menganggap penjualan buku ini tidak akan dapat mengembalikan biaya yang telah dikeluarkan. Hal ini beralasan karena formatnya mudah untuk di-fotocopy, pembajakan buku (atau apapun) terselenggara dengan baik di Indonesia, dan isinya yang tidak memberi tip-tip praktis dengan hasil instan. Anggapan-anggapan ini baru akan dapat dipastikan kesalahannya (atau semoga bukan kebenarannya) beberapa bulan mendatang. Sementara itu, mari kita mulai (lebih) berpikir dan berusaha merealisasikan perubahan ke arah yang lebih baik.

SURAT DARI ADGI | ARIEF ‘AYIP’ BUDIMAN****

Menjadi bangsa Indonesia boleh jadi adalah sebuah takdir, tapi menjadi seorang desainer adalah sebuah pilihan. Konteks kalimat ini hendak menunjukan status Indonesia dengan kondisinya yang tengah dibebani demikian banyak problematika sosial untuk tidak disesali dan sisi lainnya adalah hendak mempertegas sikap warga Negara Indonesia yang memilih profesi menjadi desainer untuk turut bertanggung jawab atas permasalahan sosial tersebut.

Mengapa harus mempersoalkan sikap desainer? Menurut sifat pekerjaan dan kompetensinya desainer memiliki kontribusi besar bagi perubahan. Yang dimaksud tentunya bukan hanya perubahan bagi institusi komersial yang menjadi klien-kliennya, merubah lingkungan sosial lewat keahliannya serta menawarkan perubahan yang mendasar adalah sebuah keniscayaan.

Namun mampukah kita menjawab ironi dan dilema kebanyakan teman desainer yang mensikapi minim keterlibatannya dalam kerja sosial dengan pernyataan “Bagaimana mungkin kita membantu memecahkan masalah sosial jika kami para desainer masih tertatih-tatih memecahkan masalah kami sendiri”

Upaya dan kontribusi desainer bagi perubahan sosial adalah upaya mengasah sensitifitas dan melatih kepekaan profesinya merespon setiap problematika yang ada. Menguasai problematika sosial membuat seorang desainer memahami posisinya sebagai anggota masyarakat sekaligus memahami arah yang akan ditujunya sebagai seorang professional. Pada dimensi lain, upaya upaya desainer berpartisipasi dalam tiap permasalahan sosial dapat menumbuhkan apresiasi dan pengakuan publik terhadap profesi. Bukankah ini sesuatu yang banyak dirindukan orang yang memilih profesi ini?

Saat ini ekspektasi yang tinggi terhadap peran desainer sangat beralasan, diperjelas dengan minat untuk menjadi desainer semakin tinggi sehingga memunculkan logika akan semakin banyak insan yang terlibat bagi perubahan ini akan semakin baik.

Kehadiran Buku Do Good Design edisi bahasa Indonesia ini bukan saja memberikan referensi tentang betapa pentingnya peran ini diimani oleh para desainer, tapi kita juga bakal mengenal eksistensi David Berman sang penulisnya di wilayah sosial design yang memberikan perspektif baru bagi banyak pihak mengenai pentingnya komitmen ini. Bahkan bagi Berman, “Today, everyone is a designer. And the future of civilization is our common design project.” Keteguhannya berada dalam jalur ini tidak harus membuatnya menjadi seorang liberal yang menafikan peran non desainer. Ia menjalani pilihannya sepenuh hati sebagaimana kecintaannya terhadap profesi desainer yang dipilihnya.

Melalui Buku ini, Aikon sang penerbit dengan penuh kesadaran hendak mengajak para desainer Indonesia segera memasuki wilayah do good design yang luas sebagai tempat menumbuhkan harapan akan perubahan. Upaya ini adalah investasi menuju pada kesejatian seorang desainer.

****) Arief ‘Ayip’ Budiman adalah direktur eksekutif ADGI, Asosiasi Desain Grafis Indonesia, periode 2010 – 2014 dan direktur desain Matamera, Bali.

KATA PENGANTAR EDISI BAHASA CINA | MIN WANG*****

Pada tahun 2004, David Berman memberikan kuliah di sekolah desain kami. Kuliah itu begitu membekas pada para pengajar dan mahasiswa. Pengajarannya berpusat pada karya, tanggung jawab, dan identitas seorang desainer. Lebih dari itu, ia juga menyentuh slogan sekolah kami: “Desain untuk Masyarakat.”

Setelah peristiwa itu, saya sampaikan harapan kepadanya agar suatu hari nanti buku ini dapat diterbitkan di Cina. Industri desain di Cina yang luar biasa besar telah lahir dari ekonomi yang booming, dengan amat sangat cepat. Ribuan desainer dengan tak kenal lelah melayani mesin ekonomi. Mereka tak punya waktu lagi untuk memikirkan apa yang dikatakan David dalam buku ini. Buku ini akan membuat para desainer mengeksplorasi: siapa mereka dan apa sesungguhnya yang telah mereka lakukan.

Mungkin kita memilih menjadi desainer karena ingin menciptakan obyek yang indah. Lebih dari itu, apakah kita juga membawa sesuatu yang secara tak sengaja membawa hal negatif ke masyarakat? Apakah kita membuat lingkungan ini menjadi tak layak ditinggali?

Kita menganggap diri kita sebagai desainer, dan bukan pengambil keputusan dan tidak punya suara yang kuat untuk mengubah perilaku masyarakat. Kita alpa memikul tanggung jawab untuk kemerosotan lingkungan alam. Untuk itu kita harus mengevaluasi ulang diri kita dan menemukan pengaruh apa yang dapat kita lakukan.

Kita sering dipaksa untuk mengutamakan kepentingan iklan. Akan tetapi ketika seseorang meneliti kembali tanggung jawab sosial kita, kita akan melihat kebenaran kata-kata David Berman. Melakukan hal yang baik daripada sekadar membuat desain yang baik, pada akhirnya akan menguntungkan lingkungan dan juga perusahaan.

Adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk menjadi rekan David di jajaran direksi Icograda. David mendorong desainer di seluruh dunia untuk melihat kembali tugas mereka, dan untuk membuat desain yang sifatnya universal. Kegiatan ini mempunyai pengaruh besar pada banyak orang, dan pada lingkungan global.

Desain yang kondusif terhadap planet ini dan umat manusia adalah desain yang baik. Desain yang estetis dan peduli adalah desain yang juga baik. Pada akhirnya, kita harus menyatukan semua aspek itu.

*****) Min Wang adalah dekan Central Academy of Fine Arts School of Design, sekolah desain terbaik di Cina, dan direktur desain untuk Olimpiade Beijing 2008.

TENTANG PENGARANG

David Berman berpengalaman lebih dari 25 tahun dalam bidang desain dan strategi komunikasi. Sederet penghargaan atas karya-karyanya diperoleh, antara lain untuk IBM, International Space Station, Health Canada, Inter Pares, Aga Khan Foundation, Sierra Club, Canada Broadcasting Corporation, dan tiga buah situs terbesari di Kanada. Telah lama dia mempunyai minat akan desain yang sederhana dan mudah dicerna. Oleh karena itu dia menghasilkan proyek untuk Justice Canada, Ontario Soil and Crop Association, dan Ontario Literacy Coalition.

David mempunyai teknik dan motivasi untuk mengaplikasikan strategi, desain, etika, dan pencitraan kreatif dalam komunikasi bisnis. Sebagai seorang ahli strategi, desainer, dan tipografer sejak 1984, dia telah bekerja untuk membuat aturan praktek etis berhubungan dengan tanggung jawab sosial seorang desainer. Bukan hanya di Kanada, tapi juga di seluruh dunia.

Dalam perjalanannya, dia menjabat sebagai presiden pertama terpilih Association of Registered Graphic Designers of Ontario (badan sertifikasi untuk desainer grafis di Amerika Utara) dari 1997 hingga 1999. Dia menyusun peraturan asosiasi itu dan Rules of Professional Conduct, dan juga sebagian isi ujian akreditasi mengenai etika dan tangggung jawab profesional. Di tahun 1999, David memperoleh gelar Fellow dari Society of Graphic Design of Canada. Penghargaan paling tinggi untuk desainer grafis profesional di negara itu, dan terpilih sebagai ketua etika nasional di tahun 2000, yang terus dia jabat hingga sekarang. David sekarang menjabat di tahun kedua sebegai direksi Icograda, badan dunia untuk desain komunikasi. Dia juga anggota GDC, AIGA, IFPA, dan Sahabat IEDD.

Mungkin minat terbesarnya adalah sebagai pembicara ahli. Dia berbicara di berbagai konferensi tentang peran para profesional dalam memperbaiki kondisi umat manusia dan lingkungan global. Kegiatan ceramah dan karya pengembangan profesional telah membawanya ke lebih dari 20 negara.

Kembali ke halaman utama » DGI Bookstore

DGI Bookstore mendistribusikan karya artis, desainer dan penulis seni budaya Indonesia (art & design book, design-related merchandise, artwork, handicraft dll.) ke seluruh Indonesia, dan semoga kelak juga ke berbagai negara.

Alamat: Lumut Hijau Kav. 332 Blok L, Cinere, Depok, Indonesia 16514 | Telepon: +62217541360, +6285890232310, +6281806027099 | Email: store@dgi-indonesia.com | Web site: Under construction | Rekening: BCA Cabang Pondok Indah. No. 2371360907 a/n Hanny Kardinata. Login ke www.klikbca.com, Bank Mandiri Cabang Bintaro. No. 1640000247785 a/n Hanny Kardinata. Login ke www.bankmandiri.co.id

« Previous Article Next Article »

COMMENTS

  1. Buku ini bagai air yang menyejukkan desain(er) grafis yang kering. Apalagi bagi yang beruntung mengikuti bedah bukunya. Benar-benar serasa diguyur hujan yang membuat kita basah kuyup, agar segera mendesain secara lebih beradab.

  2. Dari Ibnu Rudianto, Surabaya, 15.2.12:

    Pak Hanny, buku yang dipesan sudah saya terima, terima kasih pak. Nice pack pak :-) Sukses buat DGI.

    • Mas Ibnu, terima kasih juga atas kepercayaannya. Semoga buku bermanfaat. Sukses juga buat mas Ibnu dan salam kreatif.

Add Your Comments

Anda harus REGISTRASI / LOG IN untuk dapat memberikan komentar.

© DGI-Indonesia.com | Powered by Wordpress | DGI Logo, DGI's Elements & IGDA Logo by Henricus Kusbiantoro | Web's Framing by Danu Widhyatmoko | Developed by Bloggingly